Karangan : Ira Maulida
Malam semakin larut. Suara jangkrik terdengar jelas bagai paduan suara yang terus bernyanyi sepanjang malam. Angin malam terasa dingin menembus dinding kamar yang terbuat dari kayu yang susunannya tak begitu rapi. Jam dinding terus berdetak, sesekali ku melirik kearahnya. Jam 2 pagi.
Mataku mulai mengantuk, tapi tugas yang menumpuk mengharuskanku tidur lebih telat malam ini. Sambil tersenyum, kupandangi 2 orang temanku yang sudah tertidur pulas diatas tumpukan buku yang berserakan diatas meja. Lalu kuraih gelas yang kuletakkan tak jauh disebelahku. Kunikmati secangkir teh hangat dan beberapa potong roti sebagai pengusir rasa kantuk yang sedari tadi datang dan menyuruh mataku tuk segera tertutup.
Kemudian kulanjutkan kembali menulis beberapa tugas yang hampir selesai.
_O_
Beberapa bulan terakhir, aku dan teman-teman memang sering begadang, bukan karena kami suka, tapi karena berbagai tugas dan hafalan yang harus segera diselesaikan, tak ada pilihan lain yang bisa kami lakukan untuk menambah waktu belajar selain begadang.
Belum lagi tugas di organisasi yang menjerit-jerit ingin segera diselesaikan.
Jabatanku sebagai sekretaris selama dua tahun ini mengharuskan mataku terbuka lebih lama dan membuat tanganku terus menari-nari diatas keyboard laptop.
Walau terkadang lelah dengan semua tugas yang tak ada habisnya, tak ada yang dapat kulakukan selain menjalani semua ini dengan penuh kesabaran. Sama seperti nasihat ayah ketika aku dimasukkan ke sekolah asrama ini 4 tahun yang lalu. Saat kumengeluh dengan berbagai masalah yang ada. Mulai dari makanan di dapur, nasinya yang keras tapi kadang-kadang lembek seperti lontong. Belum lagi menu pagi, sambal yang krisis gula, sehingga membuatku dan kawan-kawan sering absen tuk sarapan.
Juga air yang berwarna tak seperti semestinya. Kami menyebutnya “air milo”. Air yang kami gunakan untuk segala keperluan, termasuk untuk mencuci seragam sekolah. Seragam putih yang kini tak berani kupakai lagi karena warnanya yang berubah jadi krim, amat kusam.
Tapi ayah selalu bilang,
“Sabar,.hidup kita tak selalu mudah, makanya kita harus belajar tuk hidup susah,,”. Nasihat yang masih kuingat sampai saat ini. Nasihat yang membuatku bertahan selama 3 tahun di asrama yang sering kami sebut “ Penjara Suci “.
_O_
Pagi yang cerah.
Sang mentari nampak semangat menyinari bumi. Langit biru, gumpalan awan yang putih bersih dan sedikit bias warna emas cahaya matahari di ufuk timur menambah sempurna maha karya sang Ilahi pagi ini. Sekawanan burung terbang dengan semangat menembus dinginnya angin pagi tuk mencari rezeki.
Aku masih duduk didepan asrama, memerhatikan para santri yang berlari menuju dapur agar dapat antrian paling depan.
Dengan malas kuberanjak mengikuti mereka. Mataku masih merah. Kepalaku juga masih pusing. Tidur sejam semalam membuatku tak bersemangat hari ini. Ditambah lagi antrian yang panjang, membuatku enggan tuk sarapan. Tapi cacing-cacing diperut sudah mendemo dari setengah jam yang lalu minta diberi jatah makan pagi. Tak ada pilihan lain, kutetap mengantri sambil memijat kepala yang seakan ingin meledak.
Menu pagi ini, ikan asin, tahu sambal dan tumis kangkung.
“Lumayan,.”bisikku dalam hati. Lebih baik dari telor rebus dan tumis toge, menu sarapan kemarin.
_O_
Lonceng sekolah berbunyi 2 kali, tanda wajib masuk kelas.
Di depan pintu, kulihat seseorang sedang berdiri santai sambil memainkan pulpen dengan tangan kanannya. Makin dekat, dan ia tersenyum kepadaku.
“Fa,,lesu kali kok pagi ini..sakit ea ?” kalimat pertama yang ia ucapkan setelah sekian lama kami kenal dan hanya tersenyum ketika berjumpa. Aku sudah mengenalnya sejak 2 tahun yang lalu ketika kami sekelas dan sering bertemu dalam kegiatan organisasi.
Menurutku ia orang yang sopan, ramah, cerdas, dan humoris. Diam-diam aku mengagumi sosoknya. Ia,.hanya kagum.
“Gak,.cuma kurang tidor ja,,maklum tugas numpuk ” jawabku sambil tersenyum.
Ada sedikit perasaan bahagia mendengar sapaannya tuk yang pertama kali. Ia masih berdiri di pintu dan membiarkanku masuk. Nia teman sebangkuku tersenyum lebar menyambut kedatanganku.
_O_
Jam terakhir pelajaran hari ini. Tak ada guru yang masuk. Suasana kelas seketika menjadi seperti pasar. Para lelaki menjadikan meja sebagai drum lalu bernyanyi bersama. Ada pula yang mengambil sapu tuk dijadikan sebagai gitar.
Sesekali terdengar suara gelak tawa mereka yang kasar.
Aku memilih tuk istirahat sejenak walau suasana kelas membuatku ingin menutup telinga. Pertama, kusilangkan kedua tangan diatas meja, lalu kurebahkan kepala yang masih berdenyut dari tadi. Tak lama, suara merdunya terdengar jelas, mengganti nama di lyric lagu itu dengan namaku. Aku yang belum tertidur sontak membuka mata, namun aku masih tetap di posisi semula.
Kudengarkan ia bernyanyi, seseorang yang menyapaku tadi pagi, Azka Maulana namanya. Teman-teman bersorak riang sambil bertepuk tangan memberi pujian kepada suara merdunya. Aku tersenyum, ada getaran lain di hati ini. Aku tak mengerti.
_O_
Sebulan berlalu,..
Pagi yang indah. Sinar mentari yang hangat menyentuh kulitku. Semua terlihat indah akhir-akhir ini, mungkin karena hatiku pun merasakan hal yang sama.
Aku dan Azka makin dekat. Kami sering berbicara dan bercanda.
Pun dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan, kami sering berada dalam 1 kelompok. Entah karena kebetulan atau jodoh aku tak tau, yang jelas aku senang bisa menghabiskan waktu lebih lama dengannya.
_O_
Matahari makin terik siang ini, membuatku gerah berada didalam kamar yang sempit. Walau ketika malam ia berubah menjadi ruangan yang sejuk karena Ac alami. Sambil berjalan, mataku terus menerawang, mencari tempat untuk melepaskan penat. Langkah kakiku terhenti di bawah pohon rindang, masih dekat dengan kamarku. Rumputnya terlihat rapi dan bersih, membuatku tak perlu membawa tikar tuk duduk diatasnya. Tak lama, kudengar seseorang memanggilku. Nia, teman yang akhir-akhir ini juga dekat denganku.
“Fa,.Ulfa..” ia tersenyum dan mendekat, lalu duduk disampingku.
Dari raut wajahnya, sepertinya ada sesuatu yang ingin ia katakan. Benar saja, ia memintaku tuk menyampaikan salam kepada Azka. Ia bercerita panjang lebar tentang sosok lelaki itu. Cerita yang membuat keadaan hatiku tak menentu. Berkali-kali ia memohon agar aku menyampaikan salam tuk lelaki pujaannya itu. Melihatnya memohon membuatku tak tega, dan aku pun mengabulkan permohonannya. Ia tersenyum lebar sambil tertawa kecil. Wajahnya sumringan. Aku pun ikut tersenyum, walau terasa berat karena ada sedikit goresan kecil dihatiku.
_O_
Seminggu kemudian,..
Aku masih sering berbicara dengan Azka. Tapi, pesan dari Nia masih kusimpan. Aku tak punya alasan yang tepat kenapa sampai saat ini pesan itu belum kusampaikan. Hatiku seakan tak rela.
Hingga malam itu Nia kembali menemuiku. Aku mencoba basa-basi, membicarakan hal-hal yang tak penting, dengan niat agar ia tak bertanya tentang pesannya. Kami tertawa tukbeberapa saat. Dan akhirnya ia kembali bertanya, pertanyaan yang tak ku harapkan. Aku belagak bodoh. Sambil garuk-garuk kepala kumeminta maaf kepadanya. Ku katakan bahwa aku lupa dengan pesan itu dan berjanji besok akan menyampaikannya. Ia kembali tersenyum dan mengucapkan terima kasih tuk sesuatu yang belum aku lakukan.
“Maafkan aku Nia,.” Lirihku dalam hati.
_O_
Pagi yang cerah. Sama seperti kemarin, namun sinarnya berwarna putih hari ini.
Lonceng tanda masuk kelas berbunyi, tapi aku masih diasrama. Dari depan kamar, ku berlari secepat mungkin agar tak terlambat dan dihukum. Ditengah lapangan sekolah, seorang guru killer mengangkat tongkat andalannya. Tongkat yang akan mendarat disetiap kaki yang terlambat. Sambil menghitung mundur. Pemandangan yang sama setiap hari.
Dihitungan ke-2, aku sampai didepan kelas. Nafasku tersenggal-senggal setelah lomba lari maraton yang ku tak tau siapa pemenangnya. Semua murid berlari secepat mungkin tuk mencapai garis finish. Ia masih berdiri didepan pintu, memainkan pulpen ditangannya. Kebiasaannya setiap hari. Ia menertawakanku sambil geleng-geleng kepala.
“Kesian,..” ujarnya sambil tertawa kecil.
Aku tak peduli, kubergegas masuk kelas. Nia memberikanku kipas kartonnya, tau kalau aku sedang kepanasan. Ia begitu pengertian, aku merasa bersalah karena belum menyampaikan pesannya. Aku hanya tersenyum kepadanya. Rasa lelah membuatku enggan tuk berbicara.
_O_
Langit sore begitu mendung. Angin berhembus tak selembut biasanya. Aku bergegas menuju rumah salah seorang guru tuk menyerahkan tugasku. Dari kejauhan, terlihat teman-teman sudah mengantri. Satu barisan tuk putra dan satu barisan tuk putri. Aku mempercepat langkah, setengah berlari agar tak dapat barisan paling belakang. Dan aku dapat barisan ke-7.
“Hemm,..” terdengar suara disampingku. Aku menoleh. Aku baru sadar bahwa Azka berdiri tepat disampingku. Ia tersenyum. Aku pun tersenyum.
“Antrian masih lama,..” pikirku.
Lalu kuputuskan tuk menyampaikan pesan dari Nia. Aku bercerita sambil terus tersenyum, mencoba menyembunyikan sedikit perih dihati ini. Namun raut wajahnya berubah, ia tak lagi tersenyum setelah kubercerita.Azka menggerut keningnya dan mengalihkan pandangannya dariku. Hingga selesai menyerahkan buku, ia masih tak melihat ke arahku. Tak tersenyum. Ia berlalu begitu saja. Aku heran, tak mengerti dengan sikapnya. Apa aku salah bicara ? berbagai pertanyaan memenuhi pikiranku.
_O_
Bulan terakhir di kelas 3 yang penuh dengan kenangan..,
Aku melamun, memandang kearah pintu. Walau kutau ia tak ada disana. Bangkunya pun kosong. Ia absen hari ini. Aku berniat menanyakan tentangnya kepada teman sebangkunya. Namun kuurungkan niatku setelah mendengar berita dari Nia tentangnya. Penjelasan dari Nia membuatku tenang tapi masih ada goresan dihatiku, walau aku sudah mencoba tuk menghilangkannya.
Masih ingat senyum terakhirnya didepan rumah itu. Setelahnya, ia berubah 180 derajat. Tak ada lagi sapaan, nyanyian, canda ataupun tawa. Bahkan tuk meminta maaf pun, tak berani kulakukan.
¬_O_
Musim gugur telah tiba,..
Sore itu sengaja kuhabiskan waktu dibawah pohon rindang, tempat favoritku. Aku menengadahkan kedua tangan, mencoba menangkap beberapa bunganya yang berguguran. Dari sini pun jelas kulihat, bunga-bunga itu diterbangkan angin membuat jalanan terlihat bak karpet merah yang dibentangkan tuk menyambut para tamu terhormat.
Angin sepoi-sepoi, membuatku ingin sejenak menutup mata. Mengulang kembali kenangan indah yang pernah ada. Lalu bayangan Azka kembali menari-nari dipikiranku. Lelaki yang pernah mengukir lembaran kisah indah dihidupku.
“Ah,.aku terlalu bodoh jika masih mengharapkannya,.cukuplah ia jadi tinta merah di buku harianku” gumamku dalam hati. Aku tersenyum. Lalu membuka mata. Hatiku terasa lebih tenang, karena kuyakin Allah telah merencanakan sesuatu yang lebih indah untukku.
_O_
Hari terakhir di Penjara Suci,...
Kamarku sudah kosong, tak ada satu barangpun yang tertinggal. Memang begitu seharusnya. Teman-teman seangkatan telah berkumpul dilapangan sekolah. Perkumpulan terakhir yang harus kami ikuti. Aku berjalan perlahan meninggalkan asrama yang sudah 3 tahun terakhir ku tempati. Belum jauh, kembali kumenoleh ke belakang. Aku hampir lupa mengucapkan selamat tinggal kepada tempat favoritku. Aku tersenyum memandangi batangnya yang sudah tumbuh semakin tinggi.
“Aku tak bisa lagi menemanimu menghabiskan musim gugur tahun depan,.” Lirihku dalam hati.
Kembali kulangkahkan kakiku yang terasa amat berat. Nia melambaikan tangan kearahku, mengisyaratkan agar aku berdiri disampingnya. Nia,.setiap kali melihatnya aku selalu ingat salamnya. Salam yang telah kusampaikan yang membuat Azka diam seribu bahasa ketika berjumpa denganku. Bahkan senyumpun enggan ia berikan.
“Huff,...” ku menghela nafas panjang
“Maafkan aku Azka,..”
_O_
Mengharukan. Suasana terakhir yang mengiringi akhir perjalanan kami di tempat berjuta kenangan indah ini. Air mata tak terbendung ketika mengucapkan salam perpisahan kepada keluarga besar yang ditinggalkan.
Sinar mentari yang hangat menemani langkah kami, sehangat air mata yang mengalir dipipiku. Aku berjalan pelan menuju mobil yang sudah siap mengantarkan kami kembali ke pangkuan ibunda tercinta. Namun, langkah kakiku terhenti mendengar seseorang memanggil. Aku berpaling kearahnya. Ia mendekat. Matanya merah, berkaca-kaca. Jelas, ia baru selesai menangis. Ia masih berdiri didepanku, tak berkata apa-apa.
“Ka,.aku minta maaf” ucapku pelan. Permintaan maaf yang selama ini ingin kusampaikan. Kalimat yang membuat hatiku menjadi tenang, setelah sekian lama dihantui rasa bersalah.
“Fa,.aku juga minta maaf” ujarnya. Suaranya parau. Lalu ia tersenyum. Senyuman terakhir dari seorang teman. Ia,.ia Azka teman baikku.







0 komentar:
Posting Komentar