Sekarang aku duduk
didepan cermin dengan melihat diriku sendiri yang dibalut kerudung putih dan
baju putih, semuanya serba putih. Aku tersenyum melihat diriku sendiri yang ada
dibalik cermin. Wajah itu memancarkan kebahagian. Perasaan tidak sabaranpun
membalut hatiku. Aku telah menunggu terlalu lama namun kehadiran Ridha calon
suamiku beserta keluarganya tak kunjung datang. Aku telah menunggu selama satu
jam dan harusnya dia sudah datang. Aku mulai takut meski kupaksa diriku untuk
tetap berpikir positif.
“Mungkin
jalanan macet” batinku dalam hati
Aku masih duduk
didepan cermin namun dapat kulihat, wajah dibalik cermin itu tidak lagi penuh
kebahagian seperti sebelumnya namun penuh dengan kecemasan. Aku masih terus
menunggu hingga tak terasa aku telah menunggunya selama dua jam. Rasa khawatir
itu semakin besar menyelimutiku. Tidak lama orangtuaku masuk menghampiriku dan
kulihat ibuku sudah menangis. Aku semakin cemas. Akhirnya kuberanikan diri
bertanya pada ayahku.
“Ayah, kenapa
ibu menangis? Apakah terjadi sesuatu sama mas Ridha ayah? “ tanyaku begitu
khawatir.
Ayahku hanya diam
mematung. Tak satupun kata keluar dari mulutnya. Aku semakin mendesak agar
ayahku menjelaskan apa yang terjadi.
“Ayah, tolong
katakan. Dinda takut ayah” Tanyaku lagi sambil menangis.
Ketika itu ibuku
menghampiri dan memelukku dengan erat. Saat itu aku mendengar ayah mengatakan
hal yang seharusnya tak pernah aku dengar dihari bahagiaku ini.
“Dinda, Allah
lebih tau apa yang terbaik untukmu. Allah sangat menyayangimu dan sekarang
Allah sedang merancang hadiah dari syurga yang begitu baik, jadi jangan
bersedih dengan apapun yang terjadi. Ikhlaskan Ridha karena dia telah terlebih
dahulu meninggalkanmu. Yang sabar anakku, ayah yakin kamu pasti bisa melewati
semuanya”
Setelah mendengar
itu semua, aku tidak ingat apapun lagi karena esoknya aku telah berada dirumah
sakit.
*******
2 tahun telah
berlalu namun tak ada yang berubah dengan hidupku. Aku masih begitu mencintai
Ridha hingga rasanya hidup begitu sulit
untukku jalani. Waktu tak mampu menyembuhkan luka ini. Dan rasa sakit ini
kembali terasa perih lagi ketika hari ini aku melihat pelaminan itu kembali
berdiri dirumahku. Harusnya hari ini aku harus bahagia untuk perkawinan adikku
namun tetap saja aku tak mampu meski harus berpura-pura bahagia. Kenangan untuk
2 tahun yang lalu terus berputar-putar dalam ingatanku dan kembali membuatku
menangis. Menangis untuk kesekian kalinya.
Aku berjalan
menghampiri adikku kania yang sedang berdiri dipelaminan dengan seseorang yang
semoga saja menjadi imam yang baik untuknya kelak. Langkahku begitu lemah
hingga semakin mendekati pelaminan, aku semakin tak mampu melangkah. Lalu
kulihat, adikku datang menghampiriku dan menggandeng tanganku untuk membantu
berjalan. Ketika sampai didepan pelaminan, aku memeluknya.
“Kania adik
kecilku yang dulunya paling cerewet dan bandel sekarang sudah dewasa, bahkan
sebentar lagi akan menjadi seorang istri. Aku bahagia untukmu adikku. Jadilah
istri yang baik, yang selalu mendengarkan setiap perkataan suamimu. Semoga
Allah selalu menjaga pernikahan kalian” kataku sebagai pengingat dan doa
untuknya.
“Kakak maafkan
Kania ya karena Kania melangkahi pernikahan kakak dan bahkan tidak menunggu
kakak menemukan seorang imam yang baik. Maafkan Kania yang tidak bisa menjadi
adik yang baik” ucap Kania dalam isak tangisnya.
Aku melepaskan
pelukan dan menghapus butiran bening diwajahnya lalu menyuruhnya untuk
tersenyum karena ini adalah hari bahagianya. Aku juga mengatakan padanya bahwa
aku baik-baik saja dan pernikahannya sudah cukup membuatku bahagia. Dan setelah
mengatakan itu padanya, aku menghampiri suaminya.
“Jaga Kania ya”
ucapku pada suaminya sambil kemudian berlalu meninggalkan mereka.
******
Malam ini aku
kembali bangun seperti biasanya dipertengahan malam dan kembali menangis
mengadu kepada sang maha pencipta untuk rasa sakit ini. Mengharapkan agar Allah
menambah kekuatanku untuk melewati semua cobaan ini dan memberi akhir yang
indah. Aku juga berharap agar Allah mempertemukanku dengan jodohku.
Setelah shalat dan
berdoa, aku kembali tidur dengan hati yang lebih tenang. Dan malam ini aku
bermimpi begitu indah. Dalam mimpiku, aku mendengar seseorang membaca surat
Ar-Rahman dengan lantunan suara yang sangat merdu. Dia membacanya satu ayat
demi satu ayat hingga mengakhiri bacaannya. Ketika bacaannya telah selesai, dia
berhenti sejenak kemudian mengatakan sesuatu yang membuatku terperanjat.
“Dinda, kamu
pasti tau bahwa Allah maha penyayang dan selalu memberi yang terbaik untuk
hambanya. Termasuk untukmu. Jadi percayalah padanya dan terima takdirmu.
Lupakan rasa sakit itu. ikhlaskan Ridha Dinda, karena Ridha sudah bahagia
disana”
Aku merasakan
sentuhan lembut tangan itu membangunkanku dari mimpi ini. kemudian aku
mendengar ibuku menyuruhku shalat subuh dan akhirnya aku beranjak untuk
melaksanakan shalat subuh. Kemudian hariku penuh dengan tanda Tanya tentang
mimpiku. Dan anehnya setelah mimpi itu, setiap malam aku kembali memimpikannya
lagi dan lagi.
******
Pagi ini tidak
seperti biasanya karena ayah, ibu dan Kania telah duduk diruang keluarga.
Mereka menungguku, seperti ada hal penting yang ingin disampaikan. Aku merasa
takut, karena biasanya mereka akan kembali mengatakan tentang lamaran ataupun pernikahanku
dan aku belum ingin melakukannya lagi bersama siapapun.
Aku mendengar ayah
membuka suara untuk kehampaan yang terciptakan begitu saja.
“Dinda, ayah
tau kamu sedih namun hidup terus berjalan anakku. Jika kamu seperti ini, ayah
yakin Ridha juga pasti sedih.” Aku melihat ayah menghelakan nafas panjang.
Kemudian melanjtkan kata-katanya.
“Dinda, percaya
pada Allah untuk mengatur hidupmu lebih baik jangan lagi bersedih seperti ini.
ikhlaskan semuanya anakku”
“ iya ayah,
Dinda percaya pada rencana Allah dan Dinda juga sudah ikhlas menerima semua ini”
ucapku sambil tersenyum
“ Dinda,
percayakah kamu pada ayahmu? Maukah kamu menikah dengan seseorang yang telah
ayah pilihkan untukmu? Dia mampu menjadi imam yang baik untukmu. Jika kamu mau,
lusa pernikahanmu akan dilaksanakan” kata ayahku yang membuatku tidak
percaya
“Tapi ayah,
tidakkah itu terlalu cepat?” Tanya ku disela-sela ketidakpercayaanku.
“Tidak Dinda,
sesuatu yang baik harus dikerjakan secepatnya. Jadi mulai hari ini
bersiap-siaplah untuk pernikahanmu” kata ayahku mengakhiri pembicaraan.
******
Malam ini banyak
orang dirumahku untuk mempersiapkan acara pernikahanku dengan seseorang yang
kata ayah bernama Rama. Aku tak mengenalnya bahkan aku tak tau bagaimana
wajahnya. Kata ayah biar ketika pernikahan besok saja aku melihatnya. Dan untuk
memantapkan hatiku, aku kembali shalat istikharah.
Setelah shalat,
aku kembali tidur dengan harapan semuanya akan baik-baik saja. Dan dalam
tidurku aku kembali bermimpi melihat sosok yang belakangan ini selalu ada dalam
mimpiku. Namun anehnya malam ini, dia tidak membaca surat Ar-Rahman seperti
biasanya tapi hanya berdiri membelakangiku seperti biasa. Aku mencoba
mendekatinya untuk melihat bagaimana wajahnya namun langkahku berhenti karena
ragu. Dan tanpa kusangka-sangka, aku melihat dia berbalik menghadapku kemudian
tersenyum. Senyuman paling indah yang pernah kulihat.
Sayup-sayup
kudengar suara azan berkumandang dan aku terbangun dari mimpiku. Kemudian aku
melangkah untuk shalat subuh dan bersiap-siap untuk pernikahanku yang hanya
beberapa jam saja.
******
Kini aku duduk didepan cermin, sama persis ketika dulu aku akan
menikah. Aku kembali menatap diriku dibalik cermin itu dan kemudian menangis
karena akhirnya waktu ini datang juga meski sebenarnya aku takut. Setelah itu aku
mendengar bahwa Rama dan keluarganya telah datang dan kemudian aku mendengar
suara para tamu undangan mengatakan sah dan mengucapkan Alhamdulillah. Sekarang
aku telah menjadi seorang istri. Kemudian aku mendengar Rama mengatakan akan
memberiku sebuah hadiah didepan semua orang, dia akan membacakan surat
Ar-Rahman untuk wujud terima kasihnya pada Allah yang maha penyayang yang telah
memberikan keridhaan untuk pernikahan ini. Sayup-sayup kudengar permbacaan
surat Ar-Rahmannya yang dilantukan begitu merdu.
Aku tersentak
mendengar bacakannya karena bacaan ini adalah bacaan yang selalu aku dengar
dalam mimpiku. Aku berpikir, akankah dia adalah orang yang ada dalam mimpiku?
aku begitu penasaran namun rasa penasaranku hanya bisa menggema dalam relung
kalbuku.
Aku masih duduk
didepan cermin dengan perasaan yang penuh rasa penasaran dan ketika kudengar
derap langkah mendekati kamarku, hatiku merasakan harap-harap cemas. Akan dia
orang yang ada dimimpiku? Pertanyaan yang selalu hadir dalam diriku dan ketika
ia memasuki kamar, semua tanda tanyaku terjawab sudah. Aku tersenyum menatapnya
dan mengucapkan rasa terima kasihku pada Allah yang telah memberiku hadiah dari
syurga.
Ketika dia
mendekatiku, kukatakan padanya, “Bersediakah mas Rama membacakan kembali surat
Ar-Rahman untukku?” lalu kulihat dia mengangguk dan kembali membacakan surat
Ar-Rahman. Ketika itu aku terasa seperti berada dalam mimpiku lagi.
07 Juni 2014








0 komentar:
Posting Komentar