Forum Menulis Mahasiswa Institut

Sabtu, 13 Desember 2014

HADIAH DARI SYURGA




Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dan yang paling aku tunggu-tunggu. Aku pikir semua wanita juga akan merasakan hal yang sama bila akan menghadapi hari seperti ini. inilah hari perkawinanku dengan seseorang yang kelak akan menjadi imamku, seseorang yang selalu ada dalam setiap doaku. Aku sangat bahagia hingga kebahagian ini tak sanggup kurangkai dengan kata. Hanya satu jam lagi saja, aku akan menjadi seorang istri.
            Sekarang aku duduk didepan cermin dengan melihat diriku sendiri yang dibalut kerudung putih dan baju putih, semuanya serba putih. Aku tersenyum melihat diriku sendiri yang ada dibalik cermin. Wajah itu memancarkan kebahagian. Perasaan tidak sabaranpun membalut hatiku. Aku telah menunggu terlalu lama namun kehadiran Ridha calon suamiku beserta keluarganya tak kunjung datang. Aku telah menunggu selama satu jam dan harusnya dia sudah datang. Aku mulai takut meski kupaksa diriku untuk tetap berpikir positif.
            “Mungkin jalanan macet” batinku dalam hati
            Aku masih duduk didepan cermin namun dapat kulihat, wajah dibalik cermin itu tidak lagi penuh kebahagian seperti sebelumnya namun penuh dengan kecemasan. Aku masih terus menunggu hingga tak terasa aku telah menunggunya selama dua jam. Rasa khawatir itu semakin besar menyelimutiku. Tidak lama orangtuaku masuk menghampiriku dan kulihat ibuku sudah menangis. Aku semakin cemas. Akhirnya kuberanikan diri bertanya pada ayahku.
            “Ayah, kenapa ibu menangis? Apakah terjadi sesuatu sama mas Ridha ayah? “ tanyaku begitu khawatir.
            Ayahku hanya diam mematung. Tak satupun kata keluar dari mulutnya. Aku semakin mendesak agar ayahku menjelaskan apa yang terjadi.
            “Ayah, tolong katakan. Dinda takut ayah” Tanyaku lagi sambil menangis.
            Ketika itu ibuku menghampiri dan memelukku dengan erat. Saat itu aku mendengar ayah mengatakan hal yang seharusnya tak pernah aku dengar dihari bahagiaku ini.
            “Dinda, Allah lebih tau apa yang terbaik untukmu. Allah sangat menyayangimu dan sekarang Allah sedang merancang hadiah dari syurga yang begitu baik, jadi jangan bersedih dengan apapun yang terjadi. Ikhlaskan Ridha karena dia telah terlebih dahulu meninggalkanmu. Yang sabar anakku, ayah yakin kamu pasti bisa melewati semuanya”
            Setelah mendengar itu semua, aku tidak ingat apapun lagi karena esoknya aku telah berada dirumah sakit.
*******
            2 tahun telah berlalu namun tak ada yang berubah dengan hidupku. Aku masih begitu mencintai Ridha  hingga rasanya hidup begitu sulit untukku jalani. Waktu tak mampu menyembuhkan luka ini. Dan rasa sakit ini kembali terasa perih lagi ketika hari ini aku melihat pelaminan itu kembali berdiri dirumahku. Harusnya hari ini aku harus bahagia untuk perkawinan adikku namun tetap saja aku tak mampu meski harus berpura-pura bahagia. Kenangan untuk 2 tahun yang lalu terus berputar-putar dalam ingatanku dan kembali membuatku menangis. Menangis untuk kesekian kalinya.
            Aku berjalan menghampiri adikku kania yang sedang berdiri dipelaminan dengan seseorang yang semoga saja menjadi imam yang baik untuknya kelak. Langkahku begitu lemah hingga semakin mendekati pelaminan, aku semakin tak mampu melangkah. Lalu kulihat, adikku datang menghampiriku dan menggandeng tanganku untuk membantu berjalan. Ketika sampai didepan pelaminan, aku memeluknya.
            “Kania adik kecilku yang dulunya paling cerewet dan bandel sekarang sudah dewasa, bahkan sebentar lagi akan menjadi seorang istri. Aku bahagia untukmu adikku. Jadilah istri yang baik, yang selalu mendengarkan setiap perkataan suamimu. Semoga Allah selalu menjaga pernikahan kalian” kataku sebagai pengingat dan doa untuknya.
            “Kakak maafkan Kania ya karena Kania melangkahi pernikahan kakak dan bahkan tidak menunggu kakak menemukan seorang imam yang baik. Maafkan Kania yang tidak bisa menjadi adik yang baik” ucap Kania dalam isak tangisnya.
            Aku melepaskan pelukan dan menghapus butiran bening diwajahnya lalu menyuruhnya untuk tersenyum karena ini adalah hari bahagianya. Aku juga mengatakan padanya bahwa aku baik-baik saja dan pernikahannya sudah cukup membuatku bahagia. Dan setelah mengatakan itu padanya, aku menghampiri suaminya.
            “Jaga Kania ya” ucapku pada suaminya sambil kemudian berlalu meninggalkan mereka.
******

            Malam ini aku kembali bangun seperti biasanya dipertengahan malam dan kembali menangis mengadu kepada sang maha pencipta untuk rasa sakit ini. Mengharapkan agar Allah menambah kekuatanku untuk melewati semua cobaan ini dan memberi akhir yang indah. Aku juga berharap agar Allah mempertemukanku dengan jodohku.
            Setelah shalat dan berdoa, aku kembali tidur dengan hati yang lebih tenang. Dan malam ini aku bermimpi begitu indah. Dalam mimpiku, aku mendengar seseorang membaca surat Ar-Rahman dengan lantunan suara yang sangat merdu. Dia membacanya satu ayat demi satu ayat hingga mengakhiri bacaannya. Ketika bacaannya telah selesai, dia berhenti sejenak kemudian mengatakan sesuatu yang membuatku terperanjat.
            “Dinda, kamu pasti tau bahwa Allah maha penyayang dan selalu memberi yang terbaik untuk hambanya. Termasuk untukmu. Jadi percayalah padanya dan terima takdirmu. Lupakan rasa sakit itu. ikhlaskan Ridha Dinda, karena Ridha sudah bahagia disana”
            Aku merasakan sentuhan lembut tangan itu membangunkanku dari mimpi ini. kemudian aku mendengar ibuku menyuruhku shalat subuh dan akhirnya aku beranjak untuk melaksanakan shalat subuh. Kemudian hariku penuh dengan tanda Tanya tentang mimpiku. Dan anehnya setelah mimpi itu, setiap malam aku kembali memimpikannya lagi dan lagi.
******
            Pagi ini tidak seperti biasanya karena ayah, ibu dan Kania telah duduk diruang keluarga. Mereka menungguku, seperti ada hal penting yang ingin disampaikan. Aku merasa takut, karena biasanya mereka akan kembali mengatakan tentang lamaran ataupun pernikahanku dan aku belum ingin melakukannya lagi bersama siapapun.
            Aku mendengar ayah membuka suara untuk kehampaan yang terciptakan begitu saja.
            “Dinda, ayah tau kamu sedih namun hidup terus berjalan anakku. Jika kamu seperti ini, ayah yakin Ridha juga pasti sedih.” Aku melihat ayah menghelakan nafas panjang. Kemudian melanjtkan kata-katanya.
            “Dinda, percaya pada Allah untuk mengatur hidupmu lebih baik jangan lagi bersedih seperti ini. ikhlaskan semuanya anakku”
            “ iya ayah, Dinda percaya pada rencana Allah dan Dinda juga sudah ikhlas menerima semua ini” ucapku sambil tersenyum
            “ Dinda, percayakah kamu pada ayahmu? Maukah kamu menikah dengan seseorang yang telah ayah pilihkan untukmu? Dia mampu menjadi imam yang baik untukmu. Jika kamu mau, lusa pernikahanmu akan dilaksanakan” kata ayahku yang membuatku tidak percaya
            “Tapi ayah, tidakkah itu terlalu cepat?” Tanya ku disela-sela ketidakpercayaanku.
            “Tidak Dinda, sesuatu yang baik harus dikerjakan secepatnya. Jadi mulai hari ini bersiap-siaplah untuk pernikahanmu” kata ayahku mengakhiri pembicaraan.
******
            Malam ini banyak orang dirumahku untuk mempersiapkan acara pernikahanku dengan seseorang yang kata ayah bernama Rama. Aku tak mengenalnya bahkan aku tak tau bagaimana wajahnya. Kata ayah biar ketika pernikahan besok saja aku melihatnya. Dan untuk memantapkan hatiku, aku kembali shalat istikharah.
            Setelah shalat, aku kembali tidur dengan harapan semuanya akan baik-baik saja. Dan dalam tidurku aku kembali bermimpi melihat sosok yang belakangan ini selalu ada dalam mimpiku. Namun anehnya malam ini, dia tidak membaca surat Ar-Rahman seperti biasanya tapi hanya berdiri membelakangiku seperti biasa. Aku mencoba mendekatinya untuk melihat bagaimana wajahnya namun langkahku berhenti karena ragu. Dan tanpa kusangka-sangka, aku melihat dia berbalik menghadapku kemudian tersenyum. Senyuman paling indah yang pernah kulihat.
            Sayup-sayup kudengar suara azan berkumandang dan aku terbangun dari mimpiku. Kemudian aku melangkah untuk shalat subuh dan bersiap-siap untuk pernikahanku yang hanya beberapa jam saja.
******
Kini aku duduk didepan cermin, sama persis ketika dulu aku akan menikah. Aku kembali menatap diriku dibalik cermin itu dan kemudian menangis karena akhirnya waktu ini datang juga meski sebenarnya aku takut. Setelah itu aku mendengar bahwa Rama dan keluarganya telah datang dan kemudian aku mendengar suara para tamu undangan mengatakan sah dan mengucapkan Alhamdulillah. Sekarang aku telah menjadi seorang istri. Kemudian aku mendengar Rama mengatakan akan memberiku sebuah hadiah didepan semua orang, dia akan membacakan surat Ar-Rahman untuk wujud terima kasihnya pada Allah yang maha penyayang yang telah memberikan keridhaan untuk pernikahan ini. Sayup-sayup kudengar permbacaan surat Ar-Rahmannya yang dilantukan begitu merdu. 

            Aku tersentak mendengar bacakannya karena bacaan ini adalah bacaan yang selalu aku dengar dalam mimpiku. Aku berpikir, akankah dia adalah orang yang ada dalam mimpiku? aku begitu penasaran namun rasa penasaranku hanya bisa menggema dalam relung kalbuku.
            Aku masih duduk didepan cermin dengan perasaan yang penuh rasa penasaran dan ketika kudengar derap langkah mendekati kamarku, hatiku merasakan harap-harap cemas. Akan dia orang yang ada dimimpiku? Pertanyaan yang selalu hadir dalam diriku dan ketika ia memasuki kamar, semua tanda tanyaku terjawab sudah. Aku tersenyum menatapnya dan mengucapkan rasa terima kasihku pada Allah yang telah memberiku hadiah dari syurga.

            Ketika dia mendekatiku, kukatakan padanya, “Bersediakah mas Rama membacakan kembali surat Ar-Rahman untukku?” lalu kulihat dia mengangguk dan kembali membacakan surat Ar-Rahman. Ketika itu aku terasa seperti berada dalam mimpiku lagi.

07 Juni 2014

0 komentar:

Posting Komentar