Forum Menulis Mahasiswa Institut

Selasa, 23 Desember 2014

Ringgo si kucing kampus




            Ringgo, begitu kuberi nama ia. Kucing tua di kampus Institut Agama Islam Almuslim Aceh. Di akui atau tidak, Ringgo telah menjadi bagian dari hiruk pikuk kehidupan kampus ini. Dulu badannya kurus sampai tulang panggulnya menonjol tajam. Bulunya kusam setengah rontok. Pula, kotoran matanya tampak jelas mengeras. Mirip gelandangan.
                Tapi, keadaannya sekarang berbeda. Kehidupannya bak manula yang hidup sejahtera. Tak tampak lagi realita fisiknya yang serba kekurangan. Ku pikir, pola makannya sudah mulai teratur dan bergizi untuk kelas kucing pengembara. Meskipun ia mengganjal perutnya dengan makanan sisa di tong sampah dan beberapa uluran tangan manusia yang iba kepadanya.
                Ringgo, sang penuai kontroversi emosi penghuni kampus. Beberapa orang merasa kasihan saat melihatnya membujuk rayu, meminta sedikit jatah sarapan pagi. Di beberapa kasus, mereka rela menyisakan sarapan pagi untuknya. Tidak jarang pula, rayuannya tak mempan untuk sebahagian orang.
                Terkadang ia juga menjengkelkan. Saat ia meninggalkan ranjaunya di beberapa ruangan penting di kampus ini. ia penyelinap ulung. Orang-orang terkadang tidak mengetahui kapan ia masuk dan keluar dari ruangan itu. Yang jelas, bila penghuni ruang lalai tentang keberadaannya, maka bersiaplah untuk ranjaunya yang bau dan benar-benar mengganggu.
                Aku juga sempat jengkel dengan insting jeleknya itu. Tapi, itu jauh sebelum aku memahami tentang dirinya dan pertempuran malam. Hampir setiap malam, ia di incar untuk dipukuli oleh kucing putih yang sekilas kuberi nama Baren Chen. Ia lebih muda dan gagah. Seolah ingin melucuti kucing tua itu agar pindah dari area gudang makanan ini. jelas, pertempuran ini berat sebelah. Bagaimana mungkin seorang kakek tua bertongkat, beradu fisik dengan preman gagah yang darahnya masih panas. Lantas, kumaknai fenomena ini sebuah penjajahan untuk memperebutkan wilayah kekuasaan.


                Ringgo adalah kucing tua yang tak berdaya. Usiannya sudah terlalu senja untuk menostalgiakan kegagahannya dulu. Karenanya, ia selalu menghindar bila si preman datang Dengan cara bersembunyi di tempat yang tidak diketahui atau memilih untuk lebih dulu berlindung di ruangan hangat dan aman. –ngomong-ngomong masalah ranjau, mungkin si kawan gak berani keluar karena takut beradu jotos-. Inilah yang menyebabkan Ringgo selalu menyelinap masuk ke ruang-ruang kampus di malam hari.
                Mungkin di dunia mereka, Ringgo adalah sosok pengecut. Tapi, sejatinya ia adalah kucing yang berani. Bayangkan, cuma ia satu-satunya hewan yang pernah menghentikan langkah Pak Rektor saat akan masuk keruangannya. Waktu itu, Ringgo tidur tepat di ambang pintu masuk ruang rektor. Pak Rektor mencoba mengusirnya, tapi ia tak kunjung beranjak. Dengan terpaksa, bapak mengalah dengan melangkahinya.

                Mungkin, jika ia bisa bicara, ia akan meminta : “ Wahai manusia, Adakah sebuah rumah yang aman untuk aku berlindung?, aku ingin menghabiskan masa tuaku di sini bersama kalian.”

 by : Mr. OB

0 komentar:

Posting Komentar