Ringgo,
begitu kuberi nama ia. Kucing tua di kampus Institut Agama Islam Almuslim Aceh.
Di akui atau tidak, Ringgo telah menjadi bagian dari hiruk pikuk kehidupan
kampus ini. Dulu badannya kurus sampai tulang panggulnya menonjol tajam.
Bulunya kusam setengah rontok. Pula, kotoran matanya tampak jelas mengeras.
Mirip gelandangan.
Tapi,
keadaannya sekarang berbeda. Kehidupannya bak manula yang hidup sejahtera. Tak
tampak lagi realita fisiknya yang serba kekurangan. Ku pikir, pola makannya
sudah mulai teratur dan bergizi untuk kelas kucing pengembara. Meskipun ia
mengganjal perutnya dengan makanan sisa di tong sampah dan beberapa uluran
tangan manusia yang iba kepadanya.
Ringgo,
sang penuai kontroversi emosi penghuni kampus. Beberapa orang merasa kasihan
saat melihatnya membujuk rayu, meminta sedikit jatah sarapan pagi. Di beberapa
kasus, mereka rela menyisakan sarapan pagi untuknya. Tidak jarang pula,
rayuannya tak mempan untuk sebahagian orang.
Terkadang
ia juga menjengkelkan. Saat ia meninggalkan ranjaunya di beberapa ruangan
penting di kampus ini. ia penyelinap ulung. Orang-orang terkadang tidak
mengetahui kapan ia masuk dan keluar dari ruangan itu. Yang jelas, bila
penghuni ruang lalai tentang keberadaannya, maka bersiaplah untuk ranjaunya
yang bau dan benar-benar mengganggu.
Aku
juga sempat jengkel dengan insting jeleknya itu. Tapi, itu jauh sebelum aku
memahami tentang dirinya dan pertempuran
malam. Hampir setiap malam, ia di incar untuk dipukuli oleh kucing putih
yang sekilas kuberi nama Baren Chen. Ia
lebih muda dan gagah. Seolah ingin melucuti kucing tua itu agar pindah dari
area gudang makanan ini. jelas, pertempuran ini berat sebelah. Bagaimana
mungkin seorang kakek tua bertongkat, beradu fisik dengan preman gagah yang
darahnya masih panas. Lantas, kumaknai fenomena ini sebuah penjajahan untuk
memperebutkan wilayah kekuasaan.
Ringgo
adalah kucing tua yang tak berdaya. Usiannya sudah terlalu senja untuk
menostalgiakan kegagahannya dulu. Karenanya, ia selalu menghindar bila si preman datang Dengan cara bersembunyi di
tempat yang tidak diketahui atau memilih untuk lebih dulu berlindung di ruangan
hangat dan aman. –ngomong-ngomong masalah ranjau, mungkin si kawan gak berani keluar karena takut beradu jotos-. Inilah yang
menyebabkan Ringgo selalu menyelinap masuk ke ruang-ruang kampus di malam hari.
Mungkin
di dunia mereka, Ringgo adalah sosok pengecut. Tapi, sejatinya ia adalah kucing
yang berani. Bayangkan, cuma ia satu-satunya hewan yang pernah menghentikan
langkah Pak Rektor saat akan masuk keruangannya. Waktu itu, Ringgo tidur tepat
di ambang pintu masuk ruang rektor. Pak Rektor mencoba mengusirnya, tapi ia tak
kunjung beranjak. Dengan terpaksa, bapak mengalah dengan melangkahinya.
Mungkin,
jika ia bisa bicara, ia akan meminta : “ Wahai manusia, Adakah sebuah rumah
yang aman untuk aku berlindung?, aku ingin menghabiskan masa tuaku di sini
bersama kalian.”
by : Mr. OB






0 komentar:
Posting Komentar