Tulisan sahabat Fomia
Karangan Very Ikhza.
“allahu akbar… allahu akbar” azan telah berkumandang memecah heningnya
subuh itu. “allahu akbar” sahut zya
seraya bangun langsung membereskan tempat tidurnya. Zya langsung mandi dan
menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Sejak umur 4 tahun, zya telah
ditinggal oleh orang tuanya. Ibunya meninggal dunia setelah setahun berjuang
melawan kanker otak yg di deritanya. Sepeninggalan ibunya, ayah zya memutuskan
untuk menikah lagi dan pergi meninggalkan zya bersama neneknya. Zya dan neneknya
tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana. “nek..! zya goreng telur aja pagi ini
ya?” Tanya zya sambil mengambil sebutir
telur dari dalam kulkas tua peninggalan alamarhum ibunya. ”iya terserah kamu
saja asal kamunya mau makan” sahut nenek
menanggapi pertanyaan zya, “kok asalkan
zya mau makan nek? Zya kan juga mau makan sama nenek” mendengar perkataan zya,
si nenek langsung mendekatinya, “nenek
belum lapar sayang, kamu makan duluan terus ntar terlambat kesekolahnya” ujar nenek sambil mengelus kepala zya.
Mendengar ucapan neneknya, zya hanya tersenyum. Setelah zya selesai sarapan,
zya bergegas menuju kamarnya untuk memakai seragam sekolahnya. “ya allah, hari ini cobaan apa lagi yang akan
aku hadapi di sekolah” bisik zya dalam
hatinya. Zya selalu menjadi bahan tertawaan kawan-kawan sekelasnya terutama
bagi balqis dan empat orang temanya.
“nek… Zya berangkat ke sekolah ya..
assalamualaikum..!” zya berpamitan kepada neneknya. “iya nak.. kamu harus rajin belajar ya, agar
kelak kamu jadi orang hebat” nasehat
nenek di depan pintu. Zya langsung berjalan mengambil sepeda yang ia sandarkan
di pohon mangga tepat di depan rumahnya. Jarak rumah zya ke sekolah sekitar dua
puluh menit dengan perjalanan menggunakan sepeda. Baru beberapa meter
perjalanan, tiba-tiba zya berhenti tepat didepan sebuah rumah. Zya langsung
menyandarkan sepedanya di depan pagar rumah tersebut. “assalamualaikum.. mbak..
mbak ina..?” panggil zya di depan pintu
rumah tersebut. Tidak lama setelah itu, terdengar suara dari dalam rumah “siapa ya..?” keluar sosok wanita paruh baya
yang zya panggil mbak ina tadi dari balik pintu, “ooh kamu zya, tunggu sebentar
ya..!” ucapnya sambil berjalan kembali masuk kedalam rumah. Sesaat setelah itu
mbak ina kembali keluar dengan menenteng sebuah keranjang berisi kacang rebus
yang telah iya bungkus. “zya ini
kacangya tujuh puluh bungkus ya” ucap mbak ina sambil memberikan
keranjangnya kepada zya. Zya terpaksa
harus bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya. Zya beruntung
memilki mbak ina yang senantiasa memperhatikan zya dan neneknya. Menjual kacang
rebus sudah dilakukan zya dua tahun lamanya, hal ini rutin dia lakukan setiap
hari. Zya langsung mengambil keranjang yang diberikan mbak ina, “iya mbak
semoga hari ini dagangan kita habis terjual , zya langsung pamit ya mbak,
assalamualaikum” setelah memberi salam
kepada mbak ina, zya kembali mengayuh sepedanya menuju ke sekolah.
Di
tengah-tengah perjalanan, zya dipanggil oleh beberapa orang tukang becak yang
sering mangkal disitu, “dik.. tolong bawa kacangnya kemari” teriak salah seorang tukang becak yang tidak
lain adalah pak sudir. Pak sudir setiap pagi selalu membeli kacang yang zya
bawa. “lima bungkus ya” tambah pak sudir. Dengan ramah, zya melayani
mereka. Setelah uangnya zya terima, zya langsung memberikan lima bungkus kacang
buat pak sudir, “zya jalan ya pak,
terimakasih” ucap zya kembali menaiki
sepedanya. Dalam perjalanan menuju ke sekolah, zya tersenyum-senyum sendiri
dalam hatinya tak henti-henti mengucap syukur
“alahamdulillah, pagi-pagi udah ada yang beli” lirih zya dalam hati.
Sesampainya di sekolah, ternyata pintu gerbang
sekolah sudah tertutup rapat, zya mulai panik dan langsung menuju ke depan
gerbang, disitu berdiri tegap seorang satpam yang namanya pak edi. “pak tolong bukak pintunya pak, saya minta
maaf saya terlambat” rengek zya kepada
pak edi. “zya.. coba lihat ini sudah jam berapa, ini bukan lagi kali pertama
kamu telat” ujar pak edi. “tolong kasi saya kesempatan untuk masuk ke
dalam pak, saya telat tadi kaena di jalan ada pembeli yang mau membeli kacang
saya pak..” zya mulai menangis. Melihat
zya menangis, pak edi merasa iba. “oke..
ini yang terakhir kalinya saya melihat kamu diluar gerbang saat jam pelajaran
telah dimulai” pak edi langsung
membukakan pintu gerbang sekolah mempersilahkan zya untuk masuk. “terimakasih
pak” jawab zya mengusap air matanya.
Dengan penuh semangat, zya kemudian berlari menuju ke ruang kelasnya. Pak edi
menggeleng-gelengkan kepalanya melihat zya dari belakang.
Setibanya di depan kelas, “assalamualaikum” zya member salam kepada bu lika dan seluruh
kawan-kawan di kelasnya. “walaikumsalam zya, kenapa terlambat?” Tanya bu lika. “maaf buk, tadi dijalan saya
harus melayani pembeli yang mau membeli dagangan saya buk” zya menjawab dengan kepala tertunduk. Secara
tiba-tiba dari arah kursi belakang terdengar sebuah suara “alasan itu bu,bilang
aja kacangnya telat masak” seluruh
anggota kelas ikut menertawakan zya. “eh
balqis, jaga ucapanmu..!” bu lika memarahi
balqis. Balqis adalah seorang anak yang lahir dari keluarga kaya raya, semua
yang dia perlukan pasti kesampaian tanpa kecuali. Di dalam kelas balqis
memiliki empat orang sahabat yang selalu menemaninya kemanapun ia pergi. Mereka
adalah adel, putri, cika, dan wirda. Balqis sangat membenci zya, sehigga zya
selalu jadi bahan bulian balqis dan empat orang kawannya. “okey kali ini kamu ibu maafkan, tapi ingat
hal ini jangan terulang kembali, silahkan duduk !” ujar bu lika mempersilahkan zya duduk. “kenapa juga bu lika ngebelain tu gembel ya” gumam balqis semakin kesal melihat zya.
Tepat pukul 14:00 jam sekolah pun berakhir,zya
langsung bergegas menuju ke tempat parker untuk mengambil sepedanya. Ditengah
jalan zya sempat berpas-pasan dengan balqis, zya langsung melemparkan senyum
kea rah balqis. Balqis merasa risih mendapatkan senyuman dari zya. “apa kamu senyam senyum? Dasar miskin, hitam,
kotor, bau, hidup lagi” setiap kali balqis meledek zya, selalu disertai oleh
gelak tawa dari kawan-kawannya. Dalam sekejap senyuman zya sirna karena sedih
mendapat ledekan seperti itu. Zya langsung melangkah untuk mengambil sepedanya.
Zya mulai menaiki sepedanya dan mengayuh secara perlahan, zya mengayuh
sepedanya berputar melewati taman dan lapangan basket dengan maksud supaya
kacang rebus miliknya habis terjual. Dalam perjalanan, zya tidak pernah
berhenti menyoraki kacang rebusnya “kacang
rebus.. kacang rebus..!” dengan penuh semangat zya bereriak memanggil pembeli.
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara ibu-ibu memanggil “kacang..? kacang..?” zya langsung berbalik mendatangi ibu
tersebut, “dik.. kasi ibu sepuluh
bungkus ya, ini uangnya, simpan aja kembaliannya buat kamu” ujar ibu tersebut. Zya sangat senang “ini bu
kacangnya” ucap zya penuh senyuman. Tidak lama setelah zya melayani ibu itu,
zya mendengar suara dari lorong di sebelah kirinya “dik tunggu.. jangan jalan
dulu” ucap salah seorang dari mereka.
Zya tidak menyangka sama sekali bahwa dagangannya akan diserbu seperti ini.
Sambil melayani para pembelinya, mulutnya zya tidak pernah berhenti mengucap
syukur kepada allah. Setelah semuanya pergi, zya menoleh kearah keranjang yang
tadinya terisi oleh puluhan bungkus kacang rebus, sekarang hanya tersisa satu
bungkus. “Alhamdulillah, daganganku
terjual habis, mbak ina pasti akan sangat senang” kata zya sambil
tersenyum-senyum sendiri. “hanya tersisa satu bungkus lagi, ah aku bawa pulang
sajalah, aku mau memakannya bersama nenek”
tambah zya sambil mulai mengayuh sepedanya pulang kerumah.
Tiba-tiba di tengah jalan, sebuah sepeda motor
melaju cukup cepat dari arah belakang, ‘’kkrrrkkhhhh” zya tersenggol dan
langsung tersungkur ke trotoar jalan, “aduuuh ya allah lututku” zya mengelus lututnya yang terbentur dengan
aspal, kacang terakhir yang ingin zya makan bersama neneknya pun ikut tercecer
di atas badan jalan. Pengendara sepeda motor yang membuat zya celaka itu
berteriak di depan zya “wooiii kalau jalan tu hati-hati dong” zya hanya bisa meminta maaf “iya mba, saya yang salah, saya minta maaf
ya..!” pengendara tersebut memperhatikan
zya cukup lama “ooo ternyata kamu.. eh
miskin.. lain kali mata tu dipakek ya jangan disimpan dirumah, gara-gara kamu,
aku hampir celaka tadi” cetusnya dengan mata melotot. “kamu balqis kan?” zya bertanya, zya curiga wajah di balik helm
merah itu adalah balqis, karena hanya balqis yang suka ngeledekin zya seperti itu.
Tapi dia tidak menjawab apa-apa, dia langsung pergi meninggalkan zya. Zya pun
langsung membangunkan sepedanya dan mengayuhnya kembali.
Sebelum pulang kerumahnya, zya mampir dirumah
mbak ina untuk menyetor hasil dagangannya hari ini. sesampainya dirumah mbak
ina, “mbak ina..?” panggil zya dari luar. “eh.. udah pulang zya, maaf zya, mbak lagi
masak tadi” jawab mba ina setelah
membukakan pintu. “iya gapapa mba, ini
setorannya mba… dagangan kita habis terjual hari ini” ucap zya sambil
tersenyum. “Alhamdulillah zya, yaudah
ini buat kamu ya” mbak ina memberikan
zya upah untuk kerja dia hari ini. “terimakasih mba.. zya langsung pamit ya,
assalamualaikum” zya langsung pamit dan
kembali mengayuh sepedanya menuju ke rumah.
Sesampainya dirumah, zya langsung menyalami dan
mencium tangan neneknya . ia juga bergegas menuju ke kamar mandi untuk
bersih-bersih. Tidak lama kemudian suara azan magrib telah dikumandangkan oleh
muezzin di mesjid tidak jauh dari rumah zya. Seperti biasanya, setelah
melaksanakan solat magrib, zya mengulang sejenak pelajaran-pelajaran yang ia
terima hari ini di sekolah. Setelah zya rasa cukup, zya menutup dan menyimpan
buku-bukunya dengan rapi. zya merebahkan tubuhnya diatas kasur mengistirahatkan
seluruh anggota badannya yang lelah karena telah beraktifitas penuh hari ini.
Sebelum tidur, zya mengangkat tangannya dan menghadapkan kepalanya ke atas “ya allah ya tuhanku, tolong jaga ibuku,
jauhkan dia dari siksa-Mu, terangilah kuburnya, terimalah amal ibadahnya, dan
dekatkan dia dengan rahmat-Mu, amiinn..”
zya selalu mendoakan ibunya sebelum
tidur.
Keesokan harinya zya bangun lebih awal dari
biasanya, setelah semua pekerjaan yang ada dirumah ia beresin, ia langsung
menyalami neneknya “zya ke sekolah ya
nek” ucap zya sambil membuka pintu
depan. Seperti biasa, sebelum berangkat ke sekolah zya mampir di rumah mbak ina
untuk mengambil kacang rebus. Sesampainya di sekolah, zya disambut oleh tepuk
tangan meriah dari balqis dan kawan-kawannya.
“kawan-kawan ternyata tukang kacang keliling kita ini bisa datang tepat
waktu juga” ucap balqis sambil tertawa
bersama kawan-kawannya.zya tidak menjawab apa-apa ketika balqis dan
kawan-kawannya meledekin dia, “ntar juga capek sendiri” ucap zya dalam hati. Hari itu sekolah
dipulangkan lebih cepat karena ada rapat dewan guru di kantor. Kesempatan itu
zya manfaatkan untuk bejualan. Zya langsung mengambil sepeda dan mengayuhnya
menuju ke persimpangan lampu merah. Sesampainya disana, zya langsung mengambil
posisi yang pas. “kacang rebus.. kacang rebus.. kacang rebus.!” Teriak zya memanggil pembeli. Tidak lama
setelah itu, pembeli kacang rebus milik zya pun diserbu pembeli yg berasal dari
segala kalangan, anak-anak, remaja, bahkan org tua sekalipun. Hanya dalam
hitungan 30 menit, dagangan milik zya ludes terjual. Tidak mau berlama lama
disitu, zya langsung membereskan semuanya. Ketika zya hendak menaiki sepedanya,
pandangan zya tertuju pada segerombolan perempuan memakai seragam sekolah yang
berjalan sambil tertawa menuju kea rah timur laut dari tempat zya berdiri.
Setelah zya memperhatikan dengan seksama, tertanyata balqis dan kawan-kawannya.
Tiba-tiba salah seorang dari kawan balqis melihat zya, mereka pun sepakat untuk
nyamperin zya, “kawan-kawan coba kalian lihat siapa yang lagi mangkal di lampu
merah siang-siang begini..” ejek balqis
diikuti gelak tawa dari kawan-kawannya. Lagi nunggu di pesan ya neng..?” tambah
adel, mereka tertawa semakin keras. Setelah puas meledek zya, balqis dan
kawan-kawannya pergi meninggalkan zya.
Ditengah- tengah jalan, sapu tangan balqis
tertiup angin tepat ke trotoar seberang jalan. Ketika hendak menyebrang, balqis
tidak melihat kiri kanan dahulu, ia langsung nyerocos ke tengah jalan, dari
arah berlawanan, muncul sebuah truk pick up bermuatan penuh, “balqis awas ada
mobil” tariak zya. Tapi balqis tidak
menghiraukannya, kemudian dengan spontan zya berlari menuju kearah balqis
berdiri, zya mendorong balqis ke seberang jalan dan “bbrrrraaakkk” zya
tertabrak dan terpental cukup jauh. Orang-orang yang melihat kejadian tersebut
langsung berkurumun mendekati zya untuk memberikan pertolongan. Di
tengah-tengah keramaian tersebut balqis langsung mengajak kawan-kaannya untuk
pergi dari lokasi kejadian. Zya kemudian dilarikan kerumah sakit terdekat untuk
diberikan pertolongan pertama.
Keesokan harinya, zya kembali ke sekolah
seperti biasa, tetapi kali ini zya tidak membawa dagangannya. Zya juga tidak
membawa sepedanya tapi dia pergi diantarkan sebuah becak yang juga langganan
neneknya. Turun dari becak, zya langsung berjalan kaki dengan bantuan sepasang
tongkat menuju ke ruang kelasnya. Tulang paha kanannya patah akibat dari
kecelakaan yang menimpanya kemarin siang. Sesampainya zya ke ruang kelas, “qis.. lihat siapa yang datang..” ucap wirda seraya menyenggol kaki balqis,
setelah melihat ternyata zya datang dengan menggunakan tongkat, balqis hanya
bisa mnundukkan kepalanya merasa tidak enak setelah kejadian kemarin siang.
Hari itu zya belajar dengan sangat tenang tanpa ada bulian sama sekali. Di
tengah-tengah pelajaran, zya sempat befikir
“kenapa balqis hari ini tidak mencaciku.. apa jangan-jangan dia mau
berteman sama aku karena aku telah menyelamatkannya dari maut kemarin
siang” pikir zya dalam hati. Dari dulu
zya sangat berharap untuk berteman dengan balqis. Jam pulang sekolah pun tiba,
setelah membereskan semua buku-bukunya, zya berdiri sambil meraih tongkatnya.
Di situ balqis dan zya sempat ber pas-pasan, zya langsung melempar senyum kea
rah balqis. “walaupun kemarin kamu telah
mnyelamatkan nyawaku, tetapi aku tetap tidak senang melihatmu zya, jangan
pernah bermimpi untuk menjadi kawanku, camkan itu..” cetus balqis seraya pergi meninggalkan zya.
Senyuman yang terpancar tadi perlahan
hilang dari wajah zya. Zya kemudian melangkahkan kakinya menuju ke gerbang
sekolah. Lima menit zya berdiri, “astaghfirullah” ucap zya sambil menepuk dahinya. Zya lupa
menyuruh tukang becak yang tadi pagi mengantarnya untuk kembali menjemputnya
sekarang. Terpaksa zya memutuskan untuk berjalan kaki pulang kerumah.
Ditengah perjalanan, tepat di depan lapangan
basket, zya dikejutkan oleh sebuah suara yang cukup keras, “mba..! kacang basi ada gak..?” begitu
kalimat yang di lontarkan oleh seseorang dari lapangan itu. Teriakan itu
diikuti oleh gelak tawa dari yang lainnya. Tetapi diantara semua yang
menertawakan zya, ada seorang laki-laki yang tidak ikut tertawa, namanya
gilang. Ia berdiri sambil memegang bola basket menatap kea rah zya. gilang
adalah seorang lelaki tampan yang sangat pemalu, sifat pemalu yang dia miliki
itu membuat semua wanita penasaran dan ingin berkenalan dengannya, ditambah
lagi gilang adalah salah satu atlet basket dari sekoahnya. Hal itu cukup
membuat balqis tergila-gila terhadapnya. Balqis telah lama memendam perasaannya
terhadap gilang, tetapi semua itu menjadi sulit karena sifat malu-malu yang
dimiliki gilang.
Tidak lama setelah itu gilang terlihat sangat
berani untuk mendekati zya, secara spontan rasa malunya terhadap wanita hari
itu hilang, “hay.. aku gilang..” ucap gilang seraya menjulurkan tangannya kea
rah zya. Disitu mereka berkenalan dan berbicara panjang lebar. Pembicaraan
mereka berakhir ketika gilang menawarkan dirinya untuk mengantarkan zya pulang
kerumahnya, zya yang sempat menolak akhirnya bersedia untuk diantarkan oleh
gilang. Di tengah-tengah perjalanan, putri dan cika yang kebetulan masih
dijalan, sempat memperhatikan mereka.
“put.. bukannya itu gilang..?” cika
bertanya kepada putri. Dengan mengerutkan dahinya, putri menjawab “iya cik, tapi kenapa gilang pulang sama tu
gembel ya..” cika kemudian berkata “ini gak benar put, kita harus laporin
kejadian ini sama balqis..” tanpa
menunggu lama putri dan cika langsung memacu motornya menuju kerumah balqis.
Sesampai dirumah balqis, mereka langsung menceritakan semua yang mereka lihat
dijalan tadi. Mendengar semua itu, balqis sangat marah “kurang ajaaarr” cetus balqis memukul bantal di sampingnya.
Keeseokan harinya, zya berangkat diantarkan
tukang becaknya seperti biasa. Sesampai di kelas, balqis sangat marah melihat
zya, tetapi ia menyembunyikan kemarahannya sambil mencari ide untuk membuat zya
celaka. Hari itu zya belajar dengan nyaman tanpa da gangguan apapun dari
balqis. Sepulang sekolah, zya berjalan menggunakan tongkatnya melewati taman
dan lapangan basket, zya berharap dapat bertemu dengan balqis di tempat itu. Tiba-tiba
ditengah jalan, tepat seperti yang diperkirakan, zya disamperin oleh balqis dan
empat orang kawannya. “balqis.. pas
sekali bisa ketemu sama kamu di sini, ada yang ingin…” belum habis zya ngomong,balqis langsung
memotong pembicaraan zya “kamu gatau
diri kali ya.. beraninya kamu ngedekatin gilang” cetus balqis sangat marah. “tolong dengerin
aku dulu.. sebenarnya kemarin gilang cumin menitipkan sesuatu sama aku” zya berusaha menenangkan balqis, tapi usaha
itu sia-sia, balqis telah dikuasai kemarahannya. “banyak omong kamu miskin, euuukkhh..” geram balqis sambil mendorong zya ke bandan
jalan. Karena kehilangan keseimbangan, zya pun tergeletak tepat di tengah
jalan. Dalam hitungan detik, “bbllleeessss”
tubuh zya terlindas sebuah mobil penganggkut semen. orang-orang sekitar
yang melihat kejadian itu langsung berdatangan untuk melihat kondisi zya. ini
kali ketiga zya celaka akibat perbuatan balqis, tetapi ini adalah kejadian
terakhir yang dialami zya, kerena sesampainya dirumah sakit, dokter yang
bersangkutan memastikan bahwa nyawa zya sudah tak tertolong lagi. Akhirnya
jenazah zya dibawa pulang mengggunakan mobil ambulan dari rumah sakit tersebut.
Beberapa orang warga juga ikut membawa zya pulang kerumahnya.
Sesampainya dirumah, nenek zya sangat terkejut
melihat cucunya sudah tiada. Si nenek juga sempat pingsan beberapa jam. Sehari
setelah jenazah zya dimakamkan, balqis dijemput oleh beberapa orang polisi
tepat dirumahnya. Menyadari kesalahannnya, balqis dengan rela dibawa ke kantor
polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Saat diinterogasi di kantor
polisi, balqis mengakui semua perbuatannya. Balqis juga membenarkan bahwa ia
menolak zya dengan sengaja. Setelah di interogasi, salah satu anggota polisi
yang menyelidiki kasus ini datang menghampiri balqis, “kamu balqis?” Tanya polisi tersebut. “ia pak saya balqis” jawab zya menoleh kearah
polisi itu berdiri. “kami menemukan benda ini di dalam tas korban, disini
tertulis untuk balqis, jadi kamu berhak untuk menerimanya” jelas polisi tersebut seraya memberikan
sebuah benda berbentuk persegi dan dilapisi kertas kado berwarna hijau. Balqis
mengambil benda tersebut dan langsung membukanya. Dia sangat terkejut melihat
isi yang ada di dalam bungkusan tersebut,sebuah bingkai dengan foto balqis yang
di tempelkan bersebelahan dengan foto gilang,disitu tertulis “aku hanya berani
menitipkan foto ini melalui zya, aku juga mempunyai perasaan kepadamu, aku mau
kamu jadi pacarku, TTD. GILANG.” Air
mata balqis mulai mengalir di pipinya. Tepat di depan foto tersebut, terdapat
sebuah bungkusan kecil yang langsung dibuka oleh balqis. Isinya jam dengan
sepotong kertas kecil di belakangnya,
“hari ini adalah hari yang spesial untukmu, jadilah yang terbaik, happy
birthday balqis, aku selalu bermimpi untuk menjadi sahabatmu, zya.” begitu isi surat tersebut. Air mata zya
semakin tak terbendung, dia menangis tersedu-sedu sambil berkata, “kamu lebih
dari sahabatku, disaat kawan, saudara dan orang tuaku tidak ingat sama sekali
hari jadiku, tapi kamu yang aku benci selama ini dapat mengingat hari itu, aku
menyesal telah salah menilaimu zya”
tidak henti-hentinya balqis mengatakan penyesalannya, tapi apa mau
dikata, nasi telah jadi bubur. Terkadang orang yang kita benci bisa menjelma
menjadi orang yang sangat memperhatikan keadaan kita. Mulai saat itu zya
menjalani hukumannya dibalik jeruji besi dengan penyesalan yang tiap saat
menghampirinya.
Selesai.
Selesai.






0 komentar:
Posting Komentar