Forum Menulis Mahasiswa Institut

Senin, 19 Oktober 2015

PENYESALAN BALQIS

Tulisan sahabat Fomia
Karangan Very Ikhza.

“allahu akbar… allahu akbar”  azan telah berkumandang memecah heningnya subuh itu.  “allahu akbar” sahut zya seraya bangun langsung membereskan tempat tidurnya. Zya langsung mandi dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Sejak umur 4 tahun, zya telah ditinggal oleh orang tuanya. Ibunya meninggal dunia setelah setahun berjuang melawan kanker otak yg di deritanya. Sepeninggalan ibunya, ayah zya memutuskan untuk menikah lagi dan pergi meninggalkan zya bersama neneknya. Zya dan neneknya tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana.  “nek..! zya goreng telur aja pagi ini ya?”  Tanya zya sambil mengambil sebutir telur dari dalam kulkas tua peninggalan alamarhum ibunya. ”iya terserah kamu saja asal kamunya mau makan”  sahut nenek menanggapi pertanyaan zya,  “kok asalkan zya mau makan nek? Zya kan juga mau makan sama nenek” mendengar perkataan zya, si nenek langsung mendekatinya,  “nenek belum lapar sayang, kamu makan duluan terus ntar terlambat kesekolahnya”  ujar nenek sambil mengelus kepala zya. Mendengar ucapan neneknya, zya hanya tersenyum. Setelah zya selesai sarapan, zya bergegas menuju kamarnya untuk memakai seragam sekolahnya.  “ya allah, hari ini cobaan apa lagi yang akan aku hadapi di sekolah”  bisik zya dalam hatinya. Zya selalu menjadi bahan tertawaan kawan-kawan sekelasnya terutama bagi balqis dan empat orang temanya.
“nek… Zya berangkat ke sekolah ya.. assalamualaikum..!” zya berpamitan kepada neneknya.  “iya nak.. kamu harus rajin belajar ya, agar kelak kamu jadi orang hebat”  nasehat nenek di depan pintu. Zya langsung berjalan mengambil sepeda yang ia sandarkan di pohon mangga tepat di depan rumahnya. Jarak rumah zya ke sekolah sekitar dua puluh menit dengan perjalanan menggunakan sepeda. Baru beberapa meter perjalanan, tiba-tiba zya berhenti tepat didepan sebuah rumah. Zya langsung menyandarkan sepedanya di depan pagar rumah tersebut. “assalamualaikum.. mbak.. mbak ina..?”  panggil zya di depan pintu rumah tersebut. Tidak lama setelah itu, terdengar suara dari dalam rumah  “siapa ya..?” keluar sosok wanita paruh baya yang zya panggil mbak ina tadi dari balik pintu, “ooh kamu zya, tunggu sebentar ya..!” ucapnya sambil berjalan kembali masuk kedalam rumah. Sesaat setelah itu mbak ina kembali keluar dengan menenteng sebuah keranjang berisi kacang rebus yang telah iya bungkus.  “zya ini kacangya tujuh puluh bungkus ya” ucap mbak ina sambil memberikan keranjangnya  kepada zya. Zya terpaksa harus bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya. Zya beruntung memilki mbak ina yang senantiasa memperhatikan zya dan neneknya. Menjual kacang rebus sudah dilakukan zya dua tahun lamanya, hal ini rutin dia lakukan setiap hari. Zya langsung mengambil keranjang yang diberikan mbak ina, “iya mbak semoga hari ini dagangan kita habis terjual , zya langsung pamit ya mbak, assalamualaikum”  setelah memberi salam kepada mbak ina, zya kembali mengayuh sepedanya menuju ke sekolah.
 Di tengah-tengah perjalanan, zya dipanggil oleh beberapa orang tukang becak yang sering mangkal disitu, “dik.. tolong bawa kacangnya kemari”  teriak salah seorang tukang becak yang tidak lain adalah pak sudir. Pak sudir setiap pagi selalu membeli kacang yang zya bawa.  “lima bungkus ya”  tambah pak sudir. Dengan ramah, zya melayani mereka. Setelah uangnya zya terima, zya langsung memberikan lima bungkus kacang buat pak sudir,  “zya jalan ya pak, terimakasih”  ucap zya kembali menaiki sepedanya. Dalam perjalanan menuju ke sekolah, zya tersenyum-senyum sendiri dalam hatinya tak henti-henti mengucap syukur  “alahamdulillah, pagi-pagi udah ada yang beli”  lirih zya dalam hati.
Sesampainya di sekolah, ternyata pintu gerbang sekolah sudah tertutup rapat, zya mulai panik dan langsung menuju ke depan gerbang, disitu berdiri tegap seorang satpam yang namanya pak edi.  “pak tolong bukak pintunya pak, saya minta maaf saya terlambat”  rengek zya kepada pak edi. “zya.. coba lihat ini sudah jam berapa, ini bukan lagi kali pertama kamu telat”  ujar pak edi.  “tolong kasi saya kesempatan untuk masuk ke dalam pak, saya telat tadi kaena di jalan ada pembeli yang mau membeli kacang saya pak..”  zya mulai menangis. Melihat zya menangis, pak edi merasa iba.  “oke.. ini yang terakhir kalinya saya melihat kamu diluar gerbang saat jam pelajaran telah dimulai”  pak edi langsung membukakan pintu gerbang sekolah mempersilahkan zya untuk masuk. “terimakasih pak”  jawab zya mengusap air matanya. Dengan penuh semangat, zya kemudian berlari menuju ke ruang kelasnya. Pak edi menggeleng-gelengkan kepalanya melihat zya dari belakang.
Setibanya di depan kelas, “assalamualaikum”  zya member salam kepada bu lika dan seluruh kawan-kawan di kelasnya. “walaikumsalam zya, kenapa terlambat?”  Tanya bu lika. “maaf buk, tadi dijalan saya harus melayani pembeli yang mau membeli dagangan saya buk”  zya menjawab dengan kepala tertunduk. Secara tiba-tiba dari arah kursi belakang terdengar sebuah suara “alasan itu bu,bilang aja kacangnya telat masak”  seluruh anggota kelas ikut menertawakan zya.  “eh balqis, jaga ucapanmu..!”  bu lika memarahi balqis. Balqis adalah seorang anak yang lahir dari keluarga kaya raya, semua yang dia perlukan pasti kesampaian tanpa kecuali. Di dalam kelas balqis memiliki empat orang sahabat yang selalu menemaninya kemanapun ia pergi. Mereka adalah adel, putri, cika, dan wirda. Balqis sangat membenci zya, sehigga zya selalu jadi bahan bulian balqis dan empat orang kawannya.  “okey kali ini kamu ibu maafkan, tapi ingat hal ini jangan terulang kembali, silahkan duduk !”  ujar bu lika mempersilahkan zya duduk.  “kenapa juga bu lika ngebelain tu gembel ya”  gumam balqis semakin kesal melihat zya.
Tepat pukul 14:00 jam sekolah pun berakhir,zya langsung bergegas menuju ke tempat parker untuk mengambil sepedanya. Ditengah jalan zya sempat berpas-pasan dengan balqis, zya langsung melemparkan senyum kea rah balqis. Balqis merasa risih mendapatkan senyuman dari zya.  “apa kamu senyam senyum? Dasar miskin, hitam, kotor, bau, hidup lagi” setiap kali balqis meledek zya, selalu disertai oleh gelak tawa dari kawan-kawannya. Dalam sekejap senyuman zya sirna karena sedih mendapat ledekan seperti itu. Zya langsung melangkah untuk mengambil sepedanya. Zya mulai menaiki sepedanya dan mengayuh secara perlahan, zya mengayuh sepedanya berputar melewati taman dan lapangan basket dengan maksud supaya kacang rebus miliknya habis terjual. Dalam perjalanan, zya tidak pernah berhenti menyoraki kacang rebusnya  “kacang rebus.. kacang rebus..!” dengan penuh semangat zya bereriak memanggil pembeli. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara ibu-ibu memanggil  “kacang..? kacang..?”  zya langsung berbalik mendatangi ibu tersebut,  “dik.. kasi ibu sepuluh bungkus ya, ini uangnya, simpan aja kembaliannya buat kamu”  ujar ibu tersebut. Zya sangat senang “ini bu kacangnya” ucap zya penuh senyuman. Tidak lama setelah zya melayani ibu itu, zya mendengar suara dari lorong di sebelah kirinya “dik tunggu.. jangan jalan dulu”  ucap salah seorang dari mereka. Zya tidak menyangka sama sekali bahwa dagangannya akan diserbu seperti ini. Sambil melayani para pembelinya, mulutnya zya tidak pernah berhenti mengucap syukur kepada allah. Setelah semuanya pergi, zya menoleh kearah keranjang yang tadinya terisi oleh puluhan bungkus kacang rebus, sekarang hanya tersisa satu bungkus.  “Alhamdulillah, daganganku terjual habis, mbak ina pasti akan sangat senang” kata zya sambil tersenyum-senyum sendiri. “hanya tersisa satu bungkus lagi, ah aku bawa pulang sajalah, aku mau memakannya bersama nenek”  tambah zya sambil mulai mengayuh sepedanya pulang kerumah.
Tiba-tiba di tengah jalan, sebuah sepeda motor melaju cukup cepat dari arah belakang, ‘’kkrrrkkhhhh” zya tersenggol dan langsung tersungkur ke trotoar jalan, “aduuuh ya allah lututku”  zya mengelus lututnya yang terbentur dengan aspal, kacang terakhir yang ingin zya makan bersama neneknya pun ikut tercecer di atas badan jalan. Pengendara sepeda motor yang membuat zya celaka itu berteriak di depan zya “wooiii kalau jalan tu hati-hati dong”  zya hanya bisa meminta maaf  “iya mba, saya yang salah, saya minta maaf ya..!”  pengendara tersebut memperhatikan zya cukup lama  “ooo ternyata kamu.. eh miskin.. lain kali mata tu dipakek ya jangan disimpan dirumah, gara-gara kamu, aku hampir celaka tadi” cetusnya dengan mata melotot.  “kamu balqis kan?”  zya bertanya, zya curiga wajah di balik helm merah itu adalah balqis, karena hanya balqis yang suka ngeledekin zya seperti itu. Tapi dia tidak menjawab apa-apa, dia langsung pergi meninggalkan zya. Zya pun langsung membangunkan sepedanya dan mengayuhnya kembali.
Sebelum pulang kerumahnya, zya mampir dirumah mbak ina untuk menyetor hasil dagangannya hari ini. sesampainya dirumah mbak ina,  “mbak ina..?”  panggil zya dari luar.  “eh.. udah pulang zya, maaf zya, mbak lagi masak tadi”  jawab mba ina setelah membukakan pintu.  “iya gapapa mba, ini setorannya mba… dagangan kita habis terjual hari ini” ucap zya sambil tersenyum.  “Alhamdulillah zya, yaudah ini buat kamu ya”  mbak ina memberikan zya upah untuk kerja dia hari ini. “terimakasih mba.. zya langsung pamit ya, assalamualaikum”  zya langsung pamit dan kembali mengayuh sepedanya menuju ke rumah.
Sesampainya dirumah, zya langsung menyalami dan mencium tangan neneknya . ia juga bergegas menuju ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Tidak lama kemudian suara azan magrib telah dikumandangkan oleh muezzin di mesjid tidak jauh dari rumah zya. Seperti biasanya, setelah melaksanakan solat magrib, zya mengulang sejenak pelajaran-pelajaran yang ia terima hari ini di sekolah. Setelah zya rasa cukup, zya menutup dan menyimpan buku-bukunya dengan rapi. zya merebahkan tubuhnya diatas kasur mengistirahatkan seluruh anggota badannya yang lelah karena telah beraktifitas penuh hari ini. Sebelum tidur, zya mengangkat tangannya dan menghadapkan kepalanya ke atas  “ya allah ya tuhanku, tolong jaga ibuku, jauhkan dia dari siksa-Mu, terangilah kuburnya, terimalah amal ibadahnya, dan dekatkan dia dengan rahmat-Mu, amiinn..”   zya selalu mendoakan ibunya sebelum  tidur.
Keesokan harinya zya bangun lebih awal dari biasanya, setelah semua pekerjaan yang ada dirumah ia beresin, ia langsung menyalami neneknya  “zya ke sekolah ya nek”  ucap zya sambil membuka pintu depan. Seperti biasa, sebelum berangkat ke sekolah zya mampir di rumah mbak ina untuk mengambil kacang rebus. Sesampainya di sekolah, zya disambut oleh tepuk tangan meriah dari balqis dan kawan-kawannya.  “kawan-kawan ternyata tukang kacang keliling kita ini bisa datang tepat waktu juga”  ucap balqis sambil tertawa bersama kawan-kawannya.zya tidak menjawab apa-apa ketika balqis dan kawan-kawannya meledekin dia, “ntar juga capek sendiri”  ucap zya dalam hati. Hari itu sekolah dipulangkan lebih cepat karena ada rapat dewan guru di kantor. Kesempatan itu zya manfaatkan untuk bejualan. Zya langsung mengambil sepeda dan mengayuhnya menuju ke persimpangan lampu merah. Sesampainya disana, zya langsung mengambil posisi yang pas. “kacang rebus.. kacang rebus.. kacang rebus.!”  Teriak zya memanggil pembeli. Tidak lama setelah itu, pembeli kacang rebus milik zya pun diserbu pembeli yg berasal dari segala kalangan, anak-anak, remaja, bahkan org tua sekalipun. Hanya dalam hitungan 30 menit, dagangan milik zya ludes terjual. Tidak mau berlama lama disitu, zya langsung membereskan semuanya. Ketika zya hendak menaiki sepedanya, pandangan zya tertuju pada segerombolan perempuan memakai seragam sekolah yang berjalan sambil tertawa menuju kea rah timur laut dari tempat zya berdiri. Setelah zya memperhatikan dengan seksama, tertanyata balqis dan kawan-kawannya. Tiba-tiba salah seorang dari kawan balqis melihat zya, mereka pun sepakat untuk nyamperin zya, “kawan-kawan coba kalian lihat siapa yang lagi mangkal di lampu merah siang-siang begini..”  ejek balqis diikuti gelak tawa dari kawan-kawannya. Lagi nunggu di pesan ya neng..?” tambah adel, mereka tertawa semakin keras. Setelah puas meledek zya, balqis dan kawan-kawannya pergi meninggalkan zya.
Ditengah- tengah jalan, sapu tangan balqis tertiup angin tepat ke trotoar seberang jalan. Ketika hendak menyebrang, balqis tidak melihat kiri kanan dahulu, ia langsung nyerocos ke tengah jalan, dari arah berlawanan, muncul sebuah truk pick up bermuatan penuh, “balqis awas ada mobil”  tariak zya. Tapi balqis tidak menghiraukannya, kemudian dengan spontan zya berlari menuju kearah balqis berdiri, zya mendorong balqis ke seberang jalan dan “bbrrrraaakkk” zya tertabrak dan terpental cukup jauh. Orang-orang yang melihat kejadian tersebut langsung berkurumun mendekati zya untuk memberikan pertolongan. Di tengah-tengah keramaian tersebut balqis langsung mengajak kawan-kaannya untuk pergi dari lokasi kejadian. Zya kemudian dilarikan kerumah sakit terdekat untuk diberikan pertolongan pertama.
Keesokan harinya, zya kembali ke sekolah seperti biasa, tetapi kali ini zya tidak membawa dagangannya. Zya juga tidak membawa sepedanya tapi dia pergi diantarkan sebuah becak yang juga langganan neneknya. Turun dari becak, zya langsung berjalan kaki dengan bantuan sepasang tongkat menuju ke ruang kelasnya. Tulang paha kanannya patah akibat dari kecelakaan yang menimpanya kemarin siang. Sesampainya zya ke ruang kelas,  “qis.. lihat siapa yang datang..”  ucap wirda seraya menyenggol kaki balqis, setelah melihat ternyata zya datang dengan menggunakan tongkat, balqis hanya bisa mnundukkan kepalanya merasa tidak enak setelah kejadian kemarin siang. Hari itu zya belajar dengan sangat tenang tanpa ada bulian sama sekali. Di tengah-tengah pelajaran, zya sempat befikir  “kenapa balqis hari ini tidak mencaciku.. apa jangan-jangan dia mau berteman sama aku karena aku telah menyelamatkannya dari maut kemarin siang”  pikir zya dalam hati. Dari dulu zya sangat berharap untuk berteman dengan balqis. Jam pulang sekolah pun tiba, setelah membereskan semua buku-bukunya, zya berdiri sambil meraih tongkatnya. Di situ balqis dan zya sempat ber pas-pasan, zya langsung melempar senyum kea rah balqis. “walaupun kemarin kamu  telah mnyelamatkan nyawaku, tetapi aku tetap tidak senang melihatmu zya, jangan pernah bermimpi untuk menjadi kawanku, camkan itu..”   cetus balqis seraya pergi meninggalkan zya. Senyuman yang terpancar  tadi perlahan hilang dari wajah zya. Zya kemudian melangkahkan kakinya menuju ke gerbang sekolah. Lima menit zya berdiri,  “astaghfirullah”   ucap zya sambil menepuk dahinya. Zya lupa menyuruh tukang becak yang tadi pagi mengantarnya untuk kembali menjemputnya sekarang. Terpaksa zya memutuskan untuk berjalan kaki pulang kerumah.
Ditengah perjalanan, tepat di depan lapangan basket, zya dikejutkan oleh sebuah suara yang cukup keras,  “mba..! kacang basi ada gak..?” begitu kalimat yang di lontarkan oleh seseorang dari lapangan itu. Teriakan itu diikuti oleh gelak tawa dari yang lainnya. Tetapi diantara semua yang menertawakan zya, ada seorang laki-laki yang tidak ikut tertawa, namanya gilang. Ia berdiri sambil memegang bola basket menatap kea rah zya. gilang adalah seorang lelaki tampan yang sangat pemalu, sifat pemalu yang dia miliki itu membuat semua wanita penasaran dan ingin berkenalan dengannya, ditambah lagi gilang adalah salah satu atlet basket dari sekoahnya. Hal itu cukup membuat balqis tergila-gila terhadapnya. Balqis telah lama memendam perasaannya terhadap gilang, tetapi semua itu menjadi sulit karena sifat malu-malu yang dimiliki gilang.
Tidak lama setelah itu gilang terlihat sangat berani untuk mendekati zya, secara spontan rasa malunya terhadap wanita hari itu hilang,  “hay.. aku gilang..”  ucap gilang seraya menjulurkan tangannya kea rah zya. Disitu mereka berkenalan dan berbicara panjang lebar. Pembicaraan mereka berakhir ketika gilang menawarkan dirinya untuk mengantarkan zya pulang kerumahnya, zya yang sempat menolak akhirnya bersedia untuk diantarkan oleh gilang. Di tengah-tengah perjalanan, putri dan cika yang kebetulan masih dijalan, sempat memperhatikan mereka.  “put.. bukannya itu gilang..?”  cika bertanya kepada putri. Dengan mengerutkan dahinya, putri menjawab  “iya cik, tapi kenapa gilang pulang sama tu gembel ya..”  cika kemudian berkata  “ini gak benar put, kita harus laporin kejadian ini sama balqis..”  tanpa menunggu lama putri dan cika langsung memacu motornya menuju kerumah balqis. Sesampai dirumah balqis, mereka langsung menceritakan semua yang mereka lihat dijalan tadi. Mendengar semua itu, balqis sangat marah  “kurang ajaaarr”  cetus balqis memukul bantal di sampingnya.
Keeseokan harinya, zya berangkat diantarkan tukang becaknya seperti biasa. Sesampai di kelas, balqis sangat marah melihat zya, tetapi ia menyembunyikan kemarahannya sambil mencari ide untuk membuat zya celaka. Hari itu zya belajar dengan nyaman tanpa da gangguan apapun dari balqis. Sepulang sekolah, zya berjalan menggunakan tongkatnya melewati taman dan lapangan basket, zya berharap dapat bertemu dengan balqis di tempat itu. Tiba-tiba ditengah jalan, tepat seperti yang diperkirakan, zya disamperin oleh balqis dan empat orang kawannya.  “balqis.. pas sekali bisa ketemu sama kamu di sini, ada yang ingin…”  belum habis zya ngomong,balqis langsung memotong pembicaraan zya  “kamu gatau diri kali ya.. beraninya kamu ngedekatin gilang”  cetus balqis sangat marah. “tolong dengerin aku dulu.. sebenarnya kemarin gilang cumin menitipkan sesuatu sama aku”  zya berusaha menenangkan balqis, tapi usaha itu sia-sia, balqis telah dikuasai kemarahannya.  “banyak omong kamu miskin, euuukkhh..”  geram balqis sambil mendorong zya ke bandan jalan. Karena kehilangan keseimbangan, zya pun tergeletak tepat di tengah jalan. Dalam hitungan detik, “bbllleeessss”  tubuh zya terlindas sebuah mobil penganggkut semen. orang-orang sekitar yang melihat kejadian itu langsung berdatangan untuk melihat kondisi zya. ini kali ketiga zya celaka akibat perbuatan balqis, tetapi ini adalah kejadian terakhir yang dialami zya, kerena sesampainya dirumah sakit, dokter yang bersangkutan memastikan bahwa nyawa zya sudah tak tertolong lagi. Akhirnya jenazah zya dibawa pulang mengggunakan mobil ambulan dari rumah sakit tersebut. Beberapa orang warga juga ikut membawa zya pulang kerumahnya.

Sesampainya dirumah, nenek zya sangat terkejut melihat cucunya sudah tiada. Si nenek juga sempat pingsan beberapa jam. Sehari setelah jenazah zya dimakamkan, balqis dijemput oleh beberapa orang polisi tepat dirumahnya. Menyadari kesalahannnya, balqis dengan rela dibawa ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Saat diinterogasi di kantor polisi, balqis mengakui semua perbuatannya. Balqis juga membenarkan bahwa ia menolak zya dengan sengaja. Setelah di interogasi, salah satu anggota polisi yang menyelidiki kasus ini datang menghampiri balqis, “kamu balqis?”  Tanya polisi tersebut.  “ia pak saya balqis” jawab zya menoleh kearah polisi itu berdiri. “kami menemukan benda ini di dalam tas korban, disini tertulis untuk balqis, jadi kamu berhak untuk menerimanya”  jelas polisi tersebut seraya memberikan sebuah benda berbentuk persegi dan dilapisi kertas kado berwarna hijau. Balqis mengambil benda tersebut dan langsung membukanya. Dia sangat terkejut melihat isi yang ada di dalam bungkusan tersebut,sebuah bingkai dengan foto balqis yang di tempelkan bersebelahan dengan foto gilang,disitu tertulis “aku hanya berani menitipkan foto ini melalui zya, aku juga mempunyai perasaan kepadamu, aku mau kamu jadi pacarku, TTD. GILANG.”  Air mata balqis mulai mengalir di pipinya. Tepat di depan foto tersebut, terdapat sebuah bungkusan kecil yang langsung dibuka oleh balqis. Isinya jam dengan sepotong kertas kecil di belakangnya,  “hari ini adalah hari yang spesial untukmu, jadilah yang terbaik, happy birthday balqis, aku selalu bermimpi untuk menjadi sahabatmu, zya.”  begitu isi surat tersebut. Air mata zya semakin tak terbendung, dia menangis tersedu-sedu sambil berkata, “kamu lebih dari sahabatku, disaat kawan, saudara dan orang tuaku tidak ingat sama sekali hari jadiku, tapi kamu yang aku benci selama ini dapat mengingat hari itu, aku menyesal telah salah menilaimu zya”  tidak henti-hentinya balqis mengatakan penyesalannya, tapi apa mau dikata, nasi telah jadi bubur. Terkadang orang yang kita benci bisa menjelma menjadi orang yang sangat memperhatikan keadaan kita. Mulai saat itu zya menjalani hukumannya dibalik jeruji besi dengan penyesalan yang tiap saat menghampirinya.
Selesai.

0 komentar:

Posting Komentar