Forum Menulis Mahasiswa Institut

Senin, 31 Agustus 2015

Salam Cinta

          
  Langit kembali menunjukkan wajah yang sama. Lagi-lagi murung ditutupi mendung. Hujanpun ikut turun dengan porsi tak begitu lebat namun cukup membuat seluruh tubuh basah kuyup jika keluar. aku memandang keluar lewat jendela sambil mendesah “ah hari menjadi membosankan karena harus seharian dirumah”.
            Tak ada yang kulakukan diantara rinai hujan yang terdengar bergemuruh ketika jatuh menimpa atap rumah dan diantara kebosanan itu sendiri. hanya mengetuk layar hp yang bahkan aku tak tau harus berharap akan terdengar bunyi dari seseorang yang entah siapa. Aku tak memiliki seseorang yang istimewa, bahkan bisa dibilang aku belum menemukan seseorang yang membuat jantungku berdebar hanya dengan memikirkannya.
      “teeet teeet” getar itu menandakan ada pesan pada BBM.
      “assalamulaikum” isi pesan yang bahkan aku tak tau dari siapa.
Kujawab salamnya atas dasar kewajiban seorang muslim ketika saudara muslimnya memberikan salam. Dan seperti kuduga, dia adalah seseorang yang menyapa, memperkenalkan diri dan meminta untuk sebuah pertemanan. Lalu karena sapaan salamnya yang singkat tempo hari, kami menjadi dekat dan mulai mengenal satu sama lain.
      Mungkin ini adalah hal wajar ketika kami mulai saling mengenal lalu mulai tertarik untuk lebih saling mengenal. Aku mulai penasaran seperti apa dia dibalik pesan islaminya yang sering kuterima. Kemudian kami putuskan untuk saling bertemu.
      Itu hanya pertemuan singkat yang ternyata banyak menaburkan kebahagiaan dan aku mulai terbiasa dengannya. Aku mulai menanti setiap kata islami yang dikirimkannya lewat pesan BBM. Tak kusadari, tiba-tiba aku telah menyukainya. bak gayung bersambut, ternyata dia juga merasakan hal yang sama. Kami akhirnya memutuskan untuk menjalaninya bersama dan ketika itu kurasa aku seperti melihat wujud kebahagiaan itu seperti apa. Terlalu tabu untuk kugambarkan akan hati yang sedang berbunga dengan kata yang begitu terbatas. Cukup kebahagian itu tergambar dari bibir yang tak henti tersungging.
      Aku menyukainya. dia yang sekarang mengisi doa-doa dan harapanku. Dia yang karenanya hal sederhana terasa begitu bermakna.
*       

      “teet teet” getar hp memberi tanda untuk pesan BM yang tiba-tiba masuk. Aku tersenyum, ketika kulihat nama pengirimnya. Sempat terasa ada yang berubah darinya beberapa hari ini dan itu membuatku khawatir. Tapi pesan singkatnya hari ini cukup membuat kekhawatiranku berkurang. Aku tak berpikir buruk.
      Cukup sesaat ketika rasa khawatir itu berkurang dan sekarang berubah menjadi kesedihan. Ini terlalu cepat berakhir, bahkan ketika kurasa getaran kebahagiaan itu masih begitu jelas. Pesannya kali ini hanya sebuah isyarat perpisahan dengan alasan yang sebenarnya baik namun tidak cukup baik untuk langsung bisa kuterima.
      “mungkin kuawali dengan kata maaf, aku tak bisa melanjutkan hubungan kita. Sekarang aku ingin fokus mempelajari dan memperdalam ilmu agamaku. Aku ingin memperdalam kitab. Aku benar-benar minta maaf jika itu membuatmu terluka”.
     Sesingkat itu dan semuanya berakhir. Aku tak tau harus mengatakan apa. Semuanya terasa seperti sebuah alasan yang tetap tak bisa kuterima. Meski tetap harus kuakui, aku yang awalnya menyukainya karena pintar masalah agama, aku menyukainya yang selalu hadir dengan nasehat yang terkadang membuatku sadar akan rasa terlena yang kadang hinggap.
      Tak bisa kupaksa semuanya harus tetap sejalan dengan harapanku, bahkan ketika kepergiannya untuk kebaikannya sendiri. hanya aku mencoba menenangkan hati dan menunggu waktu untuk menyembuhkan luka yang hadir karena kepergiannya.

      Hanya jika ini bisa disebut harapan, aku harap jika aku bisa kembali mengulangi hal yang sama bersamanya tapi dalam hubungan yang lebih sakral dari sekedar pacaran. Aku percaya, jika dia memang jodohku, selalu aka nada jalan untuk kami kembali bersama.

                                           curahan sahabat fomia Ms. OJ

0 komentar:

Posting Komentar