Tak ada yang
kulakukan diantara rinai hujan yang terdengar bergemuruh ketika jatuh menimpa
atap rumah dan diantara kebosanan itu sendiri. hanya mengetuk layar hp yang
bahkan aku tak tau harus berharap akan terdengar bunyi dari seseorang yang
entah siapa. Aku tak memiliki seseorang yang istimewa, bahkan bisa dibilang aku
belum menemukan seseorang yang membuat jantungku berdebar hanya dengan
memikirkannya.
“teeet teeet” getar itu
menandakan ada pesan pada BBM.
“assalamulaikum” isi pesan
yang bahkan aku tak tau dari siapa.
Kujawab salamnya atas dasar kewajiban seorang muslim ketika saudara
muslimnya memberikan salam. Dan seperti kuduga, dia adalah seseorang yang
menyapa, memperkenalkan diri dan meminta untuk sebuah pertemanan. Lalu karena
sapaan salamnya yang singkat tempo hari, kami menjadi dekat dan mulai mengenal
satu sama lain.
Mungkin ini adalah hal
wajar ketika kami mulai saling mengenal lalu mulai tertarik untuk lebih saling
mengenal. Aku mulai penasaran seperti apa dia dibalik pesan islaminya yang
sering kuterima. Kemudian kami putuskan untuk saling bertemu.
Itu hanya pertemuan singkat
yang ternyata banyak menaburkan kebahagiaan dan aku mulai terbiasa dengannya.
Aku mulai menanti setiap kata islami yang dikirimkannya lewat pesan BBM. Tak
kusadari, tiba-tiba aku telah menyukainya. bak gayung bersambut, ternyata dia
juga merasakan hal yang sama. Kami akhirnya memutuskan untuk menjalaninya
bersama dan ketika itu kurasa aku seperti melihat wujud kebahagiaan itu seperti
apa. Terlalu tabu untuk kugambarkan akan hati yang sedang berbunga dengan kata
yang begitu terbatas. Cukup kebahagian itu tergambar dari bibir yang tak henti
tersungging.
Aku menyukainya. dia yang
sekarang mengisi doa-doa dan harapanku. Dia yang karenanya hal sederhana terasa
begitu bermakna.
“teet teet” getar hp
memberi tanda untuk pesan BM yang tiba-tiba masuk. Aku tersenyum, ketika
kulihat nama pengirimnya. Sempat terasa ada yang berubah darinya beberapa hari
ini dan itu membuatku khawatir. Tapi pesan singkatnya hari ini cukup membuat
kekhawatiranku berkurang. Aku tak berpikir buruk.
Cukup sesaat ketika rasa
khawatir itu berkurang dan sekarang berubah menjadi kesedihan. Ini terlalu
cepat berakhir, bahkan ketika kurasa getaran kebahagiaan itu masih begitu
jelas. Pesannya kali ini hanya sebuah isyarat perpisahan dengan alasan yang
sebenarnya baik namun tidak cukup baik untuk langsung bisa kuterima.
“mungkin kuawali dengan
kata maaf, aku tak bisa melanjutkan hubungan kita. Sekarang aku ingin fokus
mempelajari dan memperdalam ilmu agamaku. Aku ingin memperdalam kitab. Aku
benar-benar minta maaf jika itu membuatmu terluka”.
Sesingkat itu dan semuanya berakhir. Aku tak tau harus mengatakan apa.
Semuanya terasa seperti sebuah alasan yang tetap tak bisa kuterima. Meski tetap
harus kuakui, aku yang awalnya menyukainya karena pintar masalah agama, aku
menyukainya yang selalu hadir dengan nasehat yang terkadang membuatku sadar
akan rasa terlena yang kadang hinggap.
Tak bisa kupaksa semuanya harus
tetap sejalan dengan harapanku, bahkan ketika kepergiannya untuk kebaikannya
sendiri. hanya aku mencoba menenangkan hati dan menunggu waktu untuk
menyembuhkan luka yang hadir karena kepergiannya.
Hanya jika ini bisa disebut
harapan, aku harap jika aku bisa kembali mengulangi hal yang sama bersamanya
tapi dalam hubungan yang lebih sakral dari sekedar pacaran. Aku percaya, jika
dia memang jodohku, selalu aka nada jalan untuk kami kembali bersama.
curahan sahabat fomia Ms. OJ








0 komentar:
Posting Komentar