Forum Menulis Mahasiswa Institut

Sabtu, 29 Agustus 2015

Merajut “ASA” (About Lonely Love)


BY: Mr.Teuku



“Matanya terus berkaca-kaca sambil membaca untaian kata-kata tertulis dalam selembar kertas yang sudah lusung dan berdebu, tetesan demi tetesan terus saja mengalir membasahi pipi gadis polos nan Anggun berambut ikal. Menit demi menit kelembutan tangannya terus saja mengusap rintisan air mata di pipi lusungnya yang semakin lama semakin membuatnya larut dalam tangisan penyesalan”

Pagi itu tepatnya tanggal 15 Agustus merupakan hari paling ditunggu-tunggu selama kurang lebih 4 tahun lima bulan setelah ia menyelesaikan tugas akhir sebagai seorang mahasiswa disebuah perguruan tinggi ternama, akhirnya gelar sarjana yang dinanti pun kini didapatkan.
Miranda,,,  Sosok yang periang, polos, manja nan anggun tiba-tiba berubah drastis semenjak ditinggal mendiang ayahnya empat tahun silam kehidupannya berubah bagaikan mendung yang datang tanpa angin.
Sungguh tak disangka, saat itu ia harus hidup sebatangkara dengan ibunya yang kian menua, kesehariannya kuliah dan mengajar ngaji, serta ia juga aktif diberbagai kegiatan organisasi lainnya. Yang kemudian satu-persatu mulai ia tinggalkan.
Semenjak kepergian ayahnya ia menjadi sering murung dan termenung hidup bagaikan tak punya arti, tapi tiba-tiba semua itu sedikit-demi sedikit mulai terobati semenjak kehadiran seorang pemuda yang terkesima merajuk masuk dalam kehidupannya.

Ia datang tanpa paksaan tanpa tawaran dan tanpa ikatan tapi bisa membuat sosok gadis lusung pipi itu terlepas dari kehilangan.
Kehadirannya pun mulai menjadi sedikit penawar rindu bagi mendiang ayahnya yang kian hari kian menjadi dewa penyemagat sang putri lusung pipi itu, hingga ia berhasil menjadi SARJANA.
Hampir semua air mata bibasuh dengan keikhlasan sang dewa penyemangat, namun sangat disayangkan saat ia telah pergi ternyata miranda tak pernah menyadari bahwa pemuda tersebut menyimpan banyak cinta, luka, dan jeritan air mata yang selama ini ia simpan dibalik sebuah senyuman manis yang seakan ia tak pernah mempunyai rasa apa-apa terhadap sosok miranda.

Yang ditinggalkan hanya sebuah Coretan diselembar kertas Lusung dan berdebu yang membuat isak tangis miranda karena ketidaksadarannya akan sebuah perasaan tulus yang tak pernah ia sadari bahwa selama ini sosok yang ia nanti bisa menjadi obat penawar hati pernah ada dan telah pergi meninggalkannya.
Dan ia hanya meninggalkan kata-kata “







Rembulan teramat gengsi mengakui kalau sinar matamu lebih pesona dari cahayanya yang biasa.
Apalah senja tanpa rona jingga, apalah cinta tanpa rindu mengikutinya dan apalah aku tanpa dirimu.
Ada yang lebih gemuruh dari guruh siang ini, sesuatu yang tak kaudengar namun membisingkan; degup jantungku.
Bagaimana bisa melupakan, jika kau masih menjadi cahaya yang mengalir di mata, suara yang mengendap di telinga.
Meskipun terkadang 'aku' hanya berharap 'kamu' dan aku bisa menjadi kita :')
Mengenangmu luka, *melupakanmu sengsara dan melepasmu derita
aku akan menunggumu disini, dengan cinta dan kasih tulus dari dalam hati
Cinta itu hadir karena adanya hati yg berbicara bukan hadir karena adanya keterpaksaan..
rasa cinta bisa datang secara tiba2, karena cinta itu misteri dan hanya hati yg bisa merasakannya
dimana ada kamu, disitu ada kebahagiaanku
cinta ada karena hati yg berbicara, karena cinta tanpa mengunakan hati akan sulit menemukannya..
saat semuanya tak memperdulikanmu, aku akan slalu setia disampingmu..
aku dapat menemukanmu di tengah keramaian dg mata dan telinga tertutup.Itu karena aku mencarimu dg hatiku
wajahmu ga membuat aku takluk,begitu jg senyumanmu,kecuali ketulusanmulah yang membuat jiwaku bertekuk lutut di hatimu
Aku tahu, aku tak pantas untukmu! Namun aku akan selalu berdoa semoga Tuhan memantaskan aku untuk kamu cintai.
 Aku hanya lebam yang ditinggalkan luka, pergi, dimana angin tak ingin bersemi dan meniup kuncup kuncup yang mengatup.
 Puisi-puisi mengangkasa sebagai bait doa sederhana. Namamu, adalah lafadz kebaikan yang terucap dalam setiap amin dan semoga.
Tak ada yang kupinta dari jejak malam sayang. Hanya sepintal doa yang mengumandangkan kebahagianmu.
Dan akan aku pungut desah rindu di pucuk bayangan, waktu kau dan aku satu; cinta, sesaat sebelum jadi rindu.
Yang dicari ada di halaman terakhir. Sayang ketika di tengah catatan, dia berhenti membaca.
Bagian terpahit dari jarak adalah kenyataan bahwa aku tak mampu menyeka embun di kedua pelupuk matamu.
Tidak semua yang berbentuk itu bernama, tetapi yang di pukul pasti berbunyi, begitu pula jiwa.
Dirimu yang purnama samarkan bintang-bintang berjuta, tertuju padamu maka mataku tak kenal yang lain kecuali dirimu.
Awal yang indah bertemu denganmu di kesempatan kedua. Mungkin, inilah jalannya, jalan kita untuk bersama.
Jadikanlah luka sebagai sahabat. Ajaklah ia bercanda hingga tertawa dan lupa akan tugasnya--meneteskan air mata.
Pada ruang hening bernama rindu, kutunggu hadir dirimu tuk menceritakan kebahagiaan yang kau bawa dari cahaya mentari.
Akan ada waktu yang tepat untuk mengecup luka, mengucap luka ataupun melupakan kita.

0 komentar:

Posting Komentar