Forum Menulis Mahasiswa Institut

Selasa, 28 Juli 2015

KEKASIH YANG TAK DIANGGAP

                                                        By : Teuku RJ

Rasamu dengan rasaku mungkin berbeda. Hubungan kita yang telah sekian lama terjalin-meski lemah. Buatmu mungkin hubungan ini biasa saja. Sekedar “pacaran”-meski kaupernah mengatakan padaku,”Mas, enam bulan lagi kita nikah ya!” Itu pintamu. Entah serius entah bercanda. Tapi aku menanggapinya dengan serius, bahkan sangat serius. Sungguh serius.
Tapi apa yang terjadi? Kau semakin tenggelam dalam pekerjaanmu di luar kota. Seakan kau terlahir di sana. Sedangkan aku, masih di sini, di kota kita. Dimana kita sama, terlahir di kota ini.
Kau semakin jarang menghubungiku melalui sms atau telpon. Dan kau akan marah jika aku menelponmu. Sms-ku pun jarang kaubalas. Sibuk dan sibuk menjadi alasan utamamu.
Aku sadar-sesadar-sadarnya. Aku-dimatamu mungkin hanya “pemuda kampungan” yang berpenampilan norak. Yang membuatmu malu jika bersamaku. Malu dilihat teman-temanmu.


“Ha…ha…ha…Pacarmu kampungan dech!” mungkin teman-temanmu komentar seperti itu setelah aku mengunjungimu di luar kota, dimana kamu bekerja.
Aku jadi kerap merenung. Di kota kita. Dimana aku bekerja.
Aku mentari tapi tak menghangatkanmu. Itu mungkin yang kaurasakan. Aku terlalu “idiot” untuk bisa memberi kehangatan buatmu. Pelukanku tetap membuatmu menggigil. Gigil karena kesendirian yang berbalut kekecewaan yang pernah kaualami. Tapi aku tak mampu mengembalikan kehangatan yang pernah kaurasakan bersama dia. Dia yang pernah mengisi hatimu dan pergi meninggalkanmu.
Aku hanya pemuda lugu dari desa. Kamu mungkin menginginkan lebih dariku. Menginginkan aku punya inisiatif tanpa harus mendikteku terus. Aku terlalu garing buatmu. Mungkin bagimu, Aku pelangi tak memberi warna di hidupmu. Aku terlalu membosankan buatmu!
Ibarat bulan. Aku sang bulan tak menerangi malammu. Kamu tak bahagia bersamaku. Ada beban di hatimu yang tergambar pada mendung matamu dan rengut di bibirmu.
Akulah bintang yang hilang ditelan kegelapan. Aku tak mempunyai arah hidup sejak kauberubah. Aku gamang. Padahal aku telah menjadi pungguk yang selalu merindukan bulan.
“Aku tak mencintaimu lagi!” Selalu itu yang kau ucapkan padaku.


***
Malam itu aku menemuimu. Setelah aku menempuh ratusan kilometer. Kamu menyambutku dengan, “Cuh…!” memuncrat ke mukaku. Seiring dengan caci makimu,”Dasar badak! Pemuda tak tahu malu. Sudah tahu aku tak cinta lagi, kamu masih saja mengejarku!”
Aku sadar. Sebagai kekasih yang tak dianggap. Kamu memperlakukanku semaumu.
Aku hanya bisa mencoba mengalah. Atas semua perlakuanmu itu. Menahan setiap amarah yang selalu menjadi bara di hatimu.
Malam itu aku pulang. Meski lelah. Meski payah. Naik bis ekonomi yang pengap dengan beraneka bau-bauan membuat perut seperti diaduk-aduk nyaris muntah.
Terakhir aku melihatmu sebelum berbalik pandang. Kamu tersenyum menang.
Bis yang mengarah ke kotaku melaju. Pelan. Makin lama makin cepat. Aku merasa sendiri dalam bis, meski telah dipenuhi para penumpang.
Aku pulang. Sebagai kekasih yang tak dianggap. Aku sadar-sesadar-sadarnya.
Aku hanya bisa mencoba bersabar. Berharap ada keajaiban dari Tuhan.
Aku akan menunggumu. Ku yakin kau kan berubah. Meski keyakinanku itu mungkin tak akan pernah terwujud.


0 komentar:

Posting Komentar