Ini bukan tentang aku
tapi tentang mereka yang memilih pilihan karena prinsip iman.
Terkadang hidup begitu
lucu, dimana mayoritas menjadi prioritas. Orang-orang yang menganggap kesalahan
itu tak menjadi masalah karena banyak yang melakukannya dan bahkan parahnya ada
sebagian orang yang mengganggap kesalahan itu sendiri menjadi benar. Lalu
kebenaran menjadi tabu, seolah-olah kau akan benar jika mengikuti yang mereka
lakukan.
Seperti halnya pacaran,
hubungan yang dibuat atas dasar suka sama suka. Tak ada ikatan apapun, hanya
sebuah hubungan yang terjadi ketika salah seorang mengatakan “maukah kau
menjadi pacarku” dan seorang lagi menjawab “iya”. Konyolnya meski pun begitu,
seseorang bahkan rela mempertaruhkan harga dirinya untuk mempertahankan hubungan
tersebut.
Lalu mereka, sebagian
yang tau bahkan itu tidak benar. Hubungan yang tidak didasarkan dari al-quran
dan hadist kemudian tak melakukannya dianggap kolot dan tidak laku. Bahkan
sebagian dikucilkan dari pergaulan.
Sebenarnya apa yang
begitu dibanggakan dari sebuah hubungan yang diatas namakan pacaran tersebut.
Jika remaja-remaja kini
mengatakan dengan pacaran bisa meningkatkan semangat belajar dan juga menjadi
tempat saling memperbaiki diri. Tapi kenyataanya banyak yang terganggu
sekolahnya karena pacaran dan bukannya malah memperbaiki diri tapi merusak
diri.
Jika katanya dengan pacaran itu adalah
masa penjajakan dimana seseorang mengenal seseorang yang lain untuk membina
hubungan yang lebih lanjut (menikah). Maka mengapa harus dengan pacaran? Bahkan
islam sendiri memperbolehkan seseorang mengenal seseorang yang lain sebelum
menikah namun bukan dengan pacaran tetapi dengan yang disebut “taaruf”. Bahkan banyak
yang pacaran bertahun-tahun tapi tidak jadi menikah.
Ayolah, jangan membenarkan hal yang
sebenarnya tidak benar. Pacaran itu hanya sebuah ajang yang mendekatkanmu
dengan zina sedangkan Allah telah berfirman “ jangan engkau dekati zina”.
Bahkan dalam Al-quran tak disebutkan bahwa jangan melakukan zina namun
mendekatinya saja tidak diperbolehkan.
Lihatlah, akui pada diri masing-masing.
Bagaimana pacaran memberi efek yang besar pada kemungkaran. Jika memang sudah
waktunya, suruh dia kerumah beserta kedua orang tuanya dan suruh lamar, tidak
harus menjalin hubungan yang sama sekali tidak perlu.
Ketahuilah, jika kini pacaran menjadi
mayoritas dalam masyarakat tapi tetap saja itu tidak benar dan jangan pernah
membenarkan hal yang salah.
Percayalah dengan firman Allah
“sesungguhnya wanita yang baik hanya untuk laki-laki yang baik dan begitu
sebaliknya, sedangkan wanita yang buruk hanya untuk laki-laki yang buruk,
begitupun sebaliknya”
Jadi jika ingin mendapat jodoh yang
baik maka dari sekarang perbaiki diri menjadi baik. Karena jodoh sesungguhnya
adalah cerminan dirimu sendiri.








0 komentar:
Posting Komentar